cepy's posts with tag: hati
What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Dari Amir l’Mu’minin Abi Hafsh Umar ibn Al Khaththaab Radhiyallahu ‘Anhu, berkata: "Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, 'Sesungguhnya amal-amal itu bergantung kepada niatnya. Dan setiap orang memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-NYA, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-NYA. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang dikejarnya atau wanita yang hendak ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia (niatkan) hijrah kepada nya.” (HR: Bukhari-Muslim)
Hadits di atas begitu popular di kalangan kaum muslimin. Sering sekali kita mendengar ucapan: “Yang penting niat. Bukankah niat kita baik” Dan sangat boleh jadi pengucapnya hanya tahu sedikit atau sebagian dari kaedah ini. Mungkin dia mendengar hanya potongan dari hadits ini yang diucapkan seseorang, mungkin juga lengkap tetapi telah disimpangkan pengertiannya oleh orang yang ia dengar dari nya hadits ini. Akhirnya semakin jauhlah apa yang sering diucapkan kebanyakan kaum muslimin dengan maksud sesungguhnya dari hadits di atas, bahkan bertentangan sama sekali.
Sesungguhnya hadits ini sangat mulia dan keluar dari lisan manusia yang paling mulia. Oleh karena nya wajib bagi kita untuk mengetahui dan mempelajari nya, sebagaimana para ulama kita memberikan perhatiannya yang khusus terhadap hadits ini.
Beberapa komentar para ulama di bawah ini menunjukkan betapa agung dan pentingnya hadits ini di dalam Islam. 1. Imam Asy-Syafi’i, “Hadits Niat masuk di dalam tujuh puluh bab masalah-masalah fiqh.” 2. Imam Ahmad ibn Hanbal,”Pokok ajaran Islam terdapat pada tiga buah hadits. Hadits Umar (hadits yang kita bicarakan sekarang), Hadits Aisyah, dan Hadits Nu’man ibn Basyir.” 3. Imam Syaukaani,” Hadits Niat merupakan sepertiga ilmu (-di dalam Islam-). 4. Imam Ibn Rajab,”Hadits Niat merupakan timbangan bagi amalan bathin, sedangkan Hadits Aisyah merupakan timbangan bagi amalah dzahir.” 5. Imam Abu Sa’id Abdurrahman ibn Mahdi,” Siapa saja yang hendak menulis sebuah kitab, hendaknya ia membuka dan memulainya dengan membawakan hadits Niat.”
Demikianlah di antara beberapa ucapan para ulama berkaitan dengan hadits Niat yang menunjukkan betapa mereka memberikan perhatian khusus terhadap hadits ini. Bahkan tidak sedikit yang menjadikan hadits ini sebagai perkara yang pertama dibahas di dalam tulisan mereka, yang antara lain dimaksudkan sebagai penghormatan terhadap hadits ini, agar para pencari ilmu membenarkan dan meluruskan niat mereka ketika mereka hendak mempelajari agama ini (Islam), dan juga tentunya masih banyak lagi faedahnya. Mereka -yang memulai kitabnya dengan hadits ini- adalah Imam Al Bukhari (dalam Shahih-nya), Imam An-Nawawi (Riyadlush-Sholihin dan Al Arba’in-nya), Taqiyuddin Al Maqdisi (Umdatul Ahkam), dan Imam Asy-Syuyuthiy (Jami’ush-Shaghir) Di antara faedah, fiqh, atau hikmah yang dapat kita petik dari hadits ini -sebagaimana kita dapati dari keterangan para ulama- adalah:
1. Niat merupakan bagian dari Iman. Niat merupakan amalan hati. Sedangkan ta’rif (difinisi) Iman menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah : Diyakini di dalam hati, diucapkan melalui lisan, dan dibuktikan dengan anggota badan dan perbuatan....Oleh karena nya pula Imam Bukhari meletakkan hadits ini di dalam Kitab Al Iman. Bukankah Allah Subhanahu Wa Ta’aala mencatat niat-niat baik kita dengan pahala yang sempurna meskipun amalan tersebut belum kita wujudkan, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam sebagai berikut: "Maka barangsiapa yang bercita-cita hendak mengerjakan kebaikan tetapi belum mengamalkannya, Allah mencatat -bagi orang tersebut- di sisi-NYA dengan kebaikan yang sempurna." (Muttafqun alaih)
2. Wajib mengetahui hukum dari sebuah amalan sebelum mengerjakannya. Setiap muslim wajib mengilmui sesuatu sebelum mengamalkannya. Apakah amalan tersebut disyari’atkan atau tidak, apakah itu wajib atau semata mustahab (disukai)? "Maka ilmuilah bahwasanya tak ada yang berhak diibadahi kecuali ALLAH dan istighfarlah atas dosamu." (QS.Muhammad:19)
3. Disyaratkannya niat pada amalan-amalan keta’atan. Amalan ta’at yang tidak disertai dengan niat tidaklah dikatakan keta’atan. Begitu pula kebaikan-kebaikan tidaklah menjadi ibadah jika tidak disertai niat untuk beribadah. Karena nya pertama-tama perlu kita mengetahui apa fungsi niat bagi amal. Sesungguhnya niatlah yang membedakan sebuah amalan. Seseorang mengerjakan keta’atan bahkan perbuatan yang bersifat ibadah. Maka apakah perbuatan tersebut diniatkan untuk mendapatkan keridloan Allah Subhanahu Wa Ta’aala atau mengharapkan selain dari itu ditentukan oleh niatnya.
4. Pentingnya ikhlas di dalam beramal. Ada sebagian ulama yang menafsirkan ma’na Niat ini dengan Ikhlas. Yang demikian juga benar, karena artinya: Sesungguhnya amalan-amalan itu bergantung kepada keikhlasan pelakunya. Sebuah amal -betapapun baik atau bermanfa’atnya itu- jika tidak dilandasi keikhlasan tidak akan diterima oleh ALLAH Subhanahu Wa Ta’aala.
"Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama ini semata-mata bagi NYA..." (QS.Al Bayyinah: 5)
Sungguh Allah Subhanahu Wa Ta’aala tidak membutuhkan keringat atau harta kita. Dan mengikhlaskan amalan semata-mata karena Allah merupakan wujud mentauhidkan Allah. Artinya, ikhlas juga merupakan sebuah tuntutan dan konsekuensi dari diciptakannya kita oleh Allah Subhanahu Wa Ta’aala.
5. Baik buruknya amal bergantung kepada niat pelakunya. Sebuah amal kebaikan akan menjadi ibadah yang diterima manakala diniatkan dengan niat yang baik, berupa keikhlasan, Dan akan menjadi buruk manakala diniatkan dengan niat buruk, berupa ksyirikan -baik kecil apalagi besar-. Akan tetapi seseorang tidak boleh menghalalkan yang haram semata-mata dengan alasan baiknya niat. Dan berangkat dari perkara inilah sesungguhnya judul tulisan di atas dibuat.
Di dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam telah memberikan pembatasan pada kata Amal, di mana yang dimaksudkan adalah amalan-amalan keta’atan. Apalagi kemudian beliau tegaskan dengan contoh Hijrah. Maka tidak boleh kita meng-qiyas-kan amalan yang baik ini dengan amalan yang buruk, seperti mencuri misalnya. Namun akhir-akhir ini manusia bermudah-mudahan mengatakan, “Yang penting niat.” Atau ,”Niat kita khan baik.” Maka kemudian ditempuhlah segala cara, dihidupkanlah segala macam yang tidak disyari’atkan, dan ditempuhlah segala jalan yang tidak ada sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam pada nya. Semua atas nama baiknya niat. Cukupkah itu? Cukupkah segala sesuatu hanya dengan alasan baiknya niat? Sungguh tak ada satupun manusia di muka bumi ini yang mengaku punya niat buruk. Bukankah para penjahat juga jika ditanya kenapa ia melakukan kejahatan itu, niscaya mereka mengatakan bahwa niat mereka baik (untuk menafkahi anak dan isteri). Seandainya memang amalan yang buruk atau jahat itu bisa menjadi baik karena niat dan yang haram bisa menjadi halal (bukan dalam hal darurat) juga karena niat, maka apa bedanya ajaran yang suci ini (Islam) dengan Machiavalisme, sebuah falsafah "Tujuan Menghalalkan Cara" yang digagas oleh si kafir Nicolo Machiavale ?. Maka hendaknya berhati-hati dalam mengatakan (“Yang penting niat.”) atau (“Niat kita khan baik.”). Boleh jadi yang mengucapkan mengira dia mengutip hadits yang mulia dan menganggap dirinya sedang mengagungkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam, padahal tanpa ia sadari ia sedang mengutip filsafat hina dan sedang mengagungkan si kafir tadi. Na’uzubillah.
Buletin Jum'at Risalah Tauhid
Allah SWT tidak menciptakan dua hati bagi manusia. Istilah hati mendua
hanyalah wujud dari keragu-raguan dalam bertindak. Hakikat hati dalam
Islam adalah qalbu yang bermakna jantung. Qalbu atau jantung, karena
berbentuk segumpal daging, disebut juga dengan mudhgah. Hadis riwayat
Bukhari dan Muslim mengemukakan bahwa jika ia (hati) baik, maka seluruh
tubuh menjadi baik pula. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh.
Hati yang baik disebut qalbun salim, selalu mendapat petunjuk dari
Allah dan dibimbing untuk berperilaku yang terpuji. Karena itu, ia
disebut hati nurani (hati yang bercahaya). Sedangkan hati yang tidak
baik disebut qalbu ghairu salim/, dimurkai oleh Allah dan disebut
dengan hati zhulmani (hati yang gelap/zalim). Jadi, jika kita hanya
punya satu hati, maka tidak mungkin separuhnya nurani dan separuhnya
lagi zhulmani.
Nurani berasal dari kata nur yang berarti cahaya atau petunjuk.
Dalam Alquran tidak ditemukan kata jamaknya (dalam bentuk anwar),
sebagaimana kata al-huda (petunjuk) dan al-birru (kebaikan). Karena
itu, cahaya atau petunjuk itu hanya satu dan sumbernya pun dari Yang
Satu pula. Dalam hal ini Allah SWT berfirman, ''Maka apakah orang-orang
yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk berislam, maka ia memperoleh
nur petunjuk dari Tuhannya.'' (Az-Zumar: 22). Demikian juga pada ayat
lain, ''Allah membimbing melalui nur-Nya terhadap siapa saja yang
dikehendaki-Nya.'' (An-Nur: 35).
Hati nurani selalu terbuka menerima dan menyampaikan kebenaran.
Ia membimbing mulut untuk selalu berkata benar, mata untuk melihat yang
baik, telinga untuk mendengar yang bermanfaat. Bahkan, ketika mendengar
suatu ucapan, maka ia pilih yang terbaiknya (Az-Zumar: 18). Rasulullah
SAW bersabda, ''Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka
berkatalah yang benar. Kalau tidak bisa, sebaiknya diam.'' (HR Muslim).
Bak kata pepatah ''diam itu emas, bicara itu perak''. Yang punya
nurani, bila bertemu yang mungkar, termotivasi untuk mengubahnya, baik
dengan kekuatan, nasihat, ataupun berpaling dari kemungkaran itu. (HR
Bukhari dan Muslim).
Manusia yang memiliki hati nurani sangat rindu untuk selalu
dekat dengan Allah. Kerinduan itu pun disambut oleh Allah dengan
firman-Nya, ''Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu denagn
kepuasan dan ridha, maka bergabunglah dengan hamba-hamba-Ku dan
masuklah ke dalam surga-Ku.'' (Al-Fajr: 27-30). Kebalikan dari hati
nurani adalah hati zhulmani yang berarti gelap atau zalim. Gelap dari
petunjuk dan menutup diri dari kebenaran. Cenderung kepada
disharmonisasi, merusak silaturahim, egois, suka membuat teror dan
provokasi.
Orang yang berhati zhulmani biasanya berjiwa SMOS (Suka Melihat
Orang Susah, atau Susah Melihat Orang Senang). Jika suatu kebenaran
merugikan dirinya, ia tutup-tutupi. Mempermainkan kata-kata adalah
wujud dari kezaliman hati. Gambaran bagi yang punya hati zhulmani
adalah lebih sesat dari binatang. (Al-A'raf: 179). Na'udzubillah.
| |