Gosip merupakan sebuah kata yang lumayan popular
saat ini. Disadari atau tidak, disengaja atau tidak, menggosip sudah
menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari. Percakapan tanpa dibumbui
gosip terasa tidak menarik walaupun mereka mengetahui bahwa menjadi
bahan gosip tidak menyenangkan.
Belakangan tayangan Infotainment merajai pertelevisian tanah air, ibarat kacang rebus acara ini selalu di nanti mulai dari ibu-ibu, anak-anak sampai bapak-bapak. Sudah bisa ditebak apa yang menjadi magnet tayangan ini, gosip seputar kehidupan selebriti. ya apalagi kalau bukan karena begitu silaunya masyarakat kita terhadap kepopuleran dan keglamoran seseorang.
Beberapa
orang berpendapat bahwa menceritakan seseorang sesuai fakta yang ada,
sesuai dengan apa yang dilihat dan didengar, tidak termasuk menggosip.
Lalu, apakah sebenarnya menggosip itu?
Diriwayatkan dari Nabi saw kata-kata berikut,
Nabi
berkata, “Tahukah Anda apa menggosip itu?” Orang berkata, “Allah dan
Rasul-Nya lebih mengetahui.” Kemudian beliau berkata, “Menggosip
berarti bahwa Anda berkata tentang saudara Anda suatu hal yang
menyakitinya.” Seseorang berkata, “Tetapi bagaimana kalau yang saya
katakan tentang dia itu memang benar?” Nabi menjawab, “[Dinamakan]
menggosip hanya bilamana hal itu sesungguhnya benar, bila tidak maka
Anda memfitnahnya.”
Rasulullah
mendefinisikan arti menggosip dengan jelas, sehingga sudah selayaknya
perbuatan menggosip dijauhi. Abu Hamid al-Ghazali dalam bukunya Ihya’
‘Ulumud-Din telah menguraikan beberapa perbuatan yang digolongkan dalam
menggosip, yaitu:
- Mengolok-olok seseorang atau membuatnya nampak terhina.
- Membuat orang tertawa dan memamerkan kegembiraannya sendiri.
- Mengungkapkan perasaan seseorang karena pengaruh marah dan berang.
- Mengukuhkan keunggulan diri dengan berbicara buruk tentang orang lain.
- Menyalahkan hubungan atau keterlibatan seseorang dalam suatu hal;
yakni, bahwa suatu keburukan tertentu tidak dilakukannya tetapi
dilakukan oleh orang lain.
- Menyesuaikan diri dengan suatu kelompok ketika dalam kumpulan mereka supaya tidak merasa terasing.
- Melecehkan seseorang yang dikhawatirkan akan membeberkan kesalahannya sendiri.
- Mengalahkan pesaing dalam perilaku yang serupa.
- Mencari kedudukan di hadapan seseorang yang berkuasa.
- Mengungkapkan kesedihan bahwa si Anu telah jatuh ke dalam dosa.
- Mengungkapkan keheranan, misalnya sungguh mengherankan bahwa si Anu telah melakukannya.
- Mencerca si pelaku suatu perbuatan ketika mengungkapkan kemarahan atasnya.
Namun, dalam beberapa hal, mengungkapkan kesalahan atau mengkritik tidak termasuk sebagai golongan menggosip, yaitu:
1.
Apabila orang tertindas mengadu tentang si penindas untuk mendapatkan
perbaikan.“Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan
terus terang, kecuali oleh orang yang teraniaya …” (QS. 4:148)
2.
Untuk menceritakan kesalahan seseorang sementara memberi nasihat
bukanlah menggosip karena kecurangan dan sikap bermuka dua tidak
diizankan dalam memberi nasihat.
3. Apabila
dalam hubungan dengan mencari persyaratan atas perintah agama
penyebutan nama seseorang tertentu rak terelakkan, maka menyebutkan
kesalahan orang seperti itu sekadar.
4. Untuk
menyampaikan penyelewangan atau kecurangan yang dilakukan yang
dilakukan oleh seseorang dengan maksud untuk menyelamatkan seorang
Muslim dari bahaya.
5. Menceritakan kesalahan seseorang di hadapan orang yang dapat mencegahnya melakukan perbuatan itu.
6. Kritik dan ungkapan pendapat tentang periwayat.
7.
Apabila seseorang mengetahui benar tentang kekurangan seseorang lain,
kemudian ia menceritakan kekurangan itu untuk mendefinisikan
kepribadiannya, misalnya menggambarkan orang tuli, bisu, pincang atau
bunting sebagaimana adanya.
8. Menggambarkan kekurangan seorang pasien kepada seorang dokter dengan tujuan bagi perawatan.
9. Apabila ada orang mengakui silsilah secara batil lalu seseorang membeberkan silsilahnya yang sesungguhnya.
10.
Apabila nyawa, harta atau kehormatan seseorang hanya dapat dilindungi
dengan memberitahukan kepadanya tentang suatu kesalahan orang.
11.
Apabila dua orang membicarakan suatu kesalahan orang lain yang sudah
diketahui oleh keduanya, walaupun mengelakkan diri dari membicarakannya
itu lebih baik karena mungkin salah satu dari keduanya telah
melupakannya.
12. Membeberkan keburukan orang
yang secara terbuka melakukan keburukan, sebagaimana dikatakan oelh
sebuah hadis, “tak ada gosip dalam hal orang yang telah merobek-robek
tirai malu”.
Dapat
dikatakan, yang menjadi pembeda antara keduanya adalah niat, bila
percakapan dengan niat untuk menjelek-jelekkan seseorang dan membuat
orang lain merasa teraniaya dikategorikan sebagai menggosip namun
percakapan dengan niat untuk membuat sadar seseorang tidak
dikategorikan sebagai menggosip. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui lebih
mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati manusia. Percakapan yang
tidak bermanfaat memang lebih baik dijauhi seperti kata pepatah ‘Diam
itu Emas’.
Wallahualam.