SIAPA MENULIS APA.........................

cepy's posts with tag: fitrah

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog EntryKembali Kepada FitrahNov 1, '06 11:58 AM
for everyone

Ramadhan telah lewat, Syawal telah kita masuki, ingatlah selalu sabda Nabi yang sering disampaikan pada saat bulan ramadhan yang lalu :

"Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan dalam rangka mencari

pahala di sisi Allah SWT, maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR Muttafaqun 'alaih).

Adalah suatu kebahagiaan dan nikmat yang besar ketika akhir Ramadhan kita memperoleh predikat sebagai orang-orang yang bertakwa. serta, memasuki bulan Syawal ini sebagai orang-orang yang fitri (suci), bagai seorang bayi yang baru lahir tanpa noda, tanpa dosa.

" Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan dalam rangka mencari pahala di sisi Allah SWT, maka Allah mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu."(HR Muttafaqun 'alaih).

Dalam konteks hubungan sosial, ampunan (saling memaafkan) dari sesama manusia merupakan syarat sempurnanya ampunan Allah. Karena, sungguh Allah tidak akan mengampuni dosa seorang hamba hingga orang yang pernah dizaliminya mengampuni dan memaafkannya.

Kedua, fitrah berarti agama tauhid. Fitrah dalam konteks ini adalah manusia kembali kepada perjanjiannya, antara makhluk dan Khalik (Pencipta), yaitu untuk taat, beribadah, dan mengesakan Allah SWT sebagai Tuhan yang menciptakannya, dengan jalan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Perintah dan larangan tersebut terangkum dalam agama tauhid, yaitu agama samawi yang Allah ridhai (Islam).

Allah berfirman:
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah);(tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS 30: 30).

Dalam ayat yang lain Allah tegaskan:
"Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya." (QS 3:19).

Orang yang kembali kepada fitrahnya memiliki dua karakter. Pertama, istiqomah dalam beribadah. Orang-orang yang kembali pada fitrahnya senantiasa melakukan amal-amal saleh dan ragam ibadah secara berkesinambungan. Dan, bahkan terus ditingkatkan. Mereka selalu berprinsip hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.

Kedua, memiliki perilaku (akhlaq) yang baik. Pembinaan yang dilakukan selama bulan Ramadhan diaplikasikannya pada bulan-bulan setelah Ramadhan. Nilai-nilai seperti kejujuran, sabar, pemaaf, pemurah, dan penyayang senantiasi menghiasi kehidupannya.
Semoga ibadah puasa yang telah kita lakukan mengantarkan kita menjadi orang-orang yang kembali kepada fitrah.

Dan, semoga kita dapat memberikan sumbangsih dan manfaat bagi kemajuan umat Islam. Amin. Wallahu a'lam bishawab.

"Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu" (Q.S. An Nuur 24:35).

"Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku satu ungkapan tentang Islam,
yang saya tidak memintanya kepada siapapun kecuali kepadamu." Rasulullah saw bersabda, "Katakanlah, 'Aku beriman kepada Allah,' kemudian Istiqamahlah." (H.R. Muslim)



Blog EntryFitrah Dan NafsuOct 19, '06 9:11 AM
for everyone

Dalam Alquran, Allah SWT berfirman, ''Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.'' (QS 30: 30). Menurut Imam al-Qurthubi, ayat ini adalah perintah Allah SWT kepada manusia untuk menguatkan niat dan membulatkan tekad dalam menegakkan ajaran-ajaran agama dengan sempurna. Hal itu adalah fitrah manusia yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Secara fitrah, manusia tidak mempunyai kecenderungan untuk membangkang kepada Allah SWT. Pada titik ini, manusia benar-benar merdeka dari hal-hal negatif yang dapat mencelakakan dirinya.

Setiap manusia dilahirkan dalam keadaaan suci seperti sucinya fitrah yang dibawanya. Rasulullah SAW bersabda, ''Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci. Maka, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, Nasrani, atau Majusi.'' Hanya saja, kehidupan dunia kadang memperdaya manusia. Manusia tidak lagi mampu mengikuti dorongan fitrahnya yang suci. Fitrahnya telah dijajah oleh kekuatan lain yang menentangnya. Manusia tidak lagi merdeka dalam berbuat. Manusia berbuat sesuai dengan keinginan kekuatan yang telah menjajahnya.

Nafsu yang tidak terkendali dapat menggelincirkan manusia dari fitrahnya yang suci. Inilah yang dalam Alquran disebut dengan nafsu amarah dan nafsu lawamah. Kedua nafsu ini bisa memenjarakan bahkan menjajah fitrah manusia. Dalam kehidupan nyata, nafsu ini bisa berbentuk nafsu memburu kenikmatan dunia. Pertama, nafsu memburu harta walaupun dengan cara yang haram. Terbongkarnya kasus impor barang ilegal, korupsi, mark up, proyek fiktif, dan sejenisnya adalah bukti bahwa fitrah manusia telah dijajah oleh nafsu memburu harta.

Kedua, nafsu memburu jabatan. Fenomena perebutan jabatan dengan cara-cara kotor merupakan bukti bahwa fitrah pelakunya telah dijajah oleh nafsu memburu jabatan. Maka, tak aneh jika kemudian ditemukan kasus ijazah palsu, politik uang, bahkan calon anggota dewan yang bermasalah.

Ketiga, nafsu memburu gelar. Ini biasanya terjadi dalam dunia pendidikan. Nafsu ini menjadi sebab maraknya penjiplakan karya ilmiah untuk mendapatkan gelar akademik tertentu. Ada juga kasus pemberian gelar hanya dengan membayar sejumlah uang sebagai biaya wisuda di lembaga yang tidak jelas statusnya.

Memerdekakan diri dari nafsu mengejar kenikmatan dunia adalah dengan menumbuhkan kesadaran bahwa kenikmatan dunia hanya bersifat sementara. Hal ini akan mendorong manusia untuk menjadikan dunia sebagai jembatan yang mengantarkannya kepada kenikmatan akhirat yang kekal. Allah SWT menegaskan, ''Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka, tidakkah kamu memahaminya?'' (QS 6: 32) Wallahu A'lam

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help