cepy's posts with tag: dunia
What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
 Sering sekali kita menemukan dimana-mana terlihat orang-orang merasakan
derita dalam hidup mereka. melihatnya, mata ini menjadi penuh akan air
mata yang tertahan. Namun, tak ada yang bisa kulakukan. kadang do'a pun
tertahan dalam kebodohan dan keterbatasan bahasa.
Rabb..
sepertinya begitu besar ketidakberuntungan yang berada pada pangkuan
dan tangan mereka yang menderita itu, dan sedikit sekali mereka
menerima berkah dan karunia. apakah berkah itu terbatas dan sempit
pembagiannya kah? apakah berkah hanya dirasakan dan dialami oleh mereka
yang beruntung saja kah? karena bahkan ibadah dan permohonan doa dari kita tidak beroleh apapun selama itu belum mengenai KehendakNya..
banyak
yang merenung saat memandang penderitaan tanpa henti, kehidupan yang
pahit, getirnya siksa dunia, dan perihnya duka yang harus ditanggung
oleh mereka yang tidak beruntung itu. bahkan derita itu beranak
bercucu dan berlangsung dalam generasi ke generasi berikutnya, seolah
tak ada harapan untuk mereka yang kurang beruntung itu untuk mengubah
nasib mereka. atau, hanya keberuntungan sajalah yang kemudian bicara
untuk mereka dan mengubah nasib mereka..
rahasia takdir, memang
tak diketahui oleh siapapun. namun, tak adakah sedikit saja keringanan,
atau petunjuk menuju masa depan yang lebih beruntung itu, agar bisa
dicicipi oleh mereka yang kekurangan? ataukah semua terletak pada
tangan manusia, untuk saling bantu-membantu dan saling meringankan
penderitaan?
bisakah kita memandang dan mendapatkan sisi lain
dari apa yang kita pandang itu, mungkin dengan pengamatan yang jeli
kita bisa beroleh suatu cahaya hidayah mengenai apa yang bisa kita
lakukan untuk meringankan derita mereka?
"Jika tidak Tinggal dari dunia
kecuali sehari, niscaya ALLAH panjangkan hari itu sampai diutuskan
kepadanya seorang lelaki dari keluargaku yang namanya sama dengan
namaku dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku dan dia memenuhi dunia
dengan keadilan seperti dia dipenuhi kedzaliman."Sabda Rasululullah dari Abdullah bin Mas'ud (riwayat Abu Dawud dan Thabrani)
"Sesungguhnya yang paling menakutkan kami adalah kalau dalam dunia Islam sudah lahir seorang MUHAMMAD BARU " David Ben Gurion,Perdana Menteri Israel Dunia yang sedang kita tempati sekarang ini, bukanlah dunia yang kita harapkan. Pada
hari ini kita melihat dengan jelas bagaimana Amerika dengan sombongnya menggempur
sebuah negara kecil bernama Irak, yang telah di embargonya selama sepuluh tahun lebih,
untuk sebuah alasan yang terbukti merupakan kebohongan besar. Senjata Pemusnah Massal
tak pernah ditemukan. Orang yang tak bersalah di hujani Bom. Ribuan orang telah mati.
Dan tak ada satupun negara yang berani melawannya.
Kelompok-kelompok kecil yang berani melawannya dengan senjata, dijuluki teroris.
Kelompok ini, selain tidak pernah menang, ternyata malah memberi sang kaisar peluang
untuk mengesahkan tindakannya membabi buta kemana mana.
Pesawat Tempur, Bom dan Satelit yang dimiliki Amerika memang mengesankan. Tetapi
semuanya ini tidak bisa mengatasi SARS, AIDS, Drug Resistant Tubercolosis, Penggunaan
Narkotik yang semakin meningkat, Angka Perzinahan yang semakin tinggi, dan Rusaknya
moral. Kalau anda mengira bahwa bahwa Amerika sedang menegakkan Tatanan Dunia Baru
(New World Order) di mana-mana, ketahuilah bahwa senjata mereka yang mengesankan itu
tidak mampu menegakkan tatanan apapun di Irak. Satu persatu serdadu Amerika mati
setiap hari. Sama sekali tidak ada tatanan apapun yang ditegakkan, apatah lagi
"New World Order". "Order" pun tak ada, yang ada adalah kehancuran.
Saat ini juga dapat kita lihat sistem kapitalisme dunia, yang merupakan
manifestasi riba dalam bentuknya yang paling buruk, telah berada diambang
kebangkrutan. Sistem yang selama ini dipuja puja kebenarannya, ternyata hanya
menghasilkan manusia manusia serakah yang membuat sistem ini ambruk dari dalam.
Kasus Enron, WorldCom, dan seabrek kasus lainnya sudah membuktikan hal ini.
Kejahatan ini dibatasi dengan Peraturan baru, untuk kemudian menghasilkan
manusia yang lebih pintar memintas peraturan itu, dan menghasilkan skandal
yang lebih hebat. Pada Hari ini kita melihat lembaga lembaga keuangan dan perdagangan
dunia tidak lebih dari rentenir penghisap darah kelas kakap yang
memakan bangsa-bangsa yang mempercayainya. Satu persatu sistem keuangan
negara negara ini ambruk. Dan bertambah buruk dari hari kehari. Negara
dihancurkan, sehingga secara tidak terlihat bangsa itu menjadi bangsa
yang tidak merdeka karena dijajah secara ekonomi oleh bangsa lain.
Tatanan perdagangan berbagai negara dihancurkan dengan jargon "pasar
bebas". Hanya bangsa-bangsa dunia yang dianggap besar yang mampu
berdagang secara bebas, bangsa-bangsa yang dianggap terpinggir cukuplah
sebagai kuli diantara bangsa bangsa atau konsumen dari produk bangsa
besar. Itu baru sebagian saja dari masalah internasional
Belum lagi masalah nasional, regional, lokal, rumah tangga kita dan seabrek masalah lain
yang setiap hari menghampiri kepala kita baik kita sadar maupun tidak. Orang yang
cerdik dan pandai, yang kita harap bisa membantu penyelesaian masalah bukannya tidak
ada. Akan tetapi, semakin banyak jumlah cerdik pandai, semakin besar kehancuran yang
mereka buat di muka bumi ini. Kemudharatan semakin besar, kasih sayang hilang dan
hubungan antar manusia penuh rasa curiga.
Pada saat rasa penat menghampiri pikiran kita, kita pun mencoba mencari hiburan. Kita
nyalakan televisi. Dan disanalah kita melihat nafsu syahwat dan kebodohan diumbar
kemana mana. Akal sehat sudah ditumpas. Syariat Agama apalagi. Akhlak, tidak usahlah
kita bicarakan. Dan ketika kita berpindah channel, yang kita lihat adalah sama , sebuah
panggung yang bising dengan seorang penyanyi, dan ribuan orang yang tanpa cita2
bergoyang bersama mengikuti irama. Anehnya, Artis yang malamnya katanya menghibur massa,
jam setengah empat sore esok harinya diberitakan sedang huru hara keluarganya. Dia
bahkan tak kuasa menghibur diri dan keluarganya sendiri. Bagaimana mungkin dia dapat
menghibur orang lain ?
Kadang kadang kita lihat juga Acara yang katanya tentang Agama. Anehnya, kita tidak
melihat adanya solusi di sana..
Inti dari semua perasaan ini adalah sama, yaitu ketidak-berdayaan kita menghadapi
semua masalah ini. Dunia menjadi lebih buruk dari sediakala. Dunia dipenuhi dengan
huru hara, manusia meninggalkan Tuhan, yang haram dihalalkan, amalan agama sangat
berkurang, dan kalo toh ada, sama sekali tidak membekas akhlak di diri pengamalnya.
Krisis terjadi dimana mana.
Melihat Kerusakan Dunia Sekarang ini, Tidak sedikit dari kita yang berpendapat :
"Sudah Selayaknya Dunia ini di Kiamatkan oleh Tuhan"
Jika telah sampai pada kita pikiran semacam itu, ada baiknya kita lihat hadist
Nabi berikut
ini :
"Jika Cuma tinggal sehari saja sebelum kiamat tiba, niscaya ALLAH pasti akan mengutuskan
seorang lelaki dari kaum keluargaku yang akan memenuhi dunia ini dengan keadilan dan
keseksamaan, seperti sebelumnya bumi ini dipenuhi oleh penindasan" Sabda Rasulullah SAW dari Sayidina Ali R.A (Sunan Abu Dawud)
Memandang dunia ini dengan segenap kemajuan Zaman, saya teringat kata-kata Anthony Giddens di pengantar
bukunya, Modernity and Self Identity, bahwa modernitas pada
dasarnya melahirkan perbedaan, pendepakan (kualifikasi) dan marginalisasi.
Kalaulah perbedaan dipandang wajar, dua implikasi berikutnya mampu membiakkan
sejumlah resiko yang mengerikan. Menurutnya, di dunia modern terkini (high
modernity), resiko itu tidak nampak. Tapi itu semua sangat potensial
terjadi. Giddens mengkhawatirkan persaingan industri persenjataan, pencemaran
lingkungan, pemberangusan total tatanan-tatanan ekonomi dunia, dan akhirnya
kebangkitan kekuatan totalitarian.
Kapan terjadi? Kapan saja, secepat
perubahan dunia ini yang disebutnya mirip pelari sprint. Maka, setiap saat bisa
terjadi pendepakan, seketat tenggat dari satu aksi marginalisasi ke lainnya,
dengan menebar luas ekses-eksesnya, seluas arti globalisasi.
Kekhawatiran Giddens bukan yang
pertama kalinya. Persis satu abad silam, pengagas Hadiah Nobel, Alfred Nobel,
dalam surat wasiatnya tertanggal 27 November 1895, ia menulis bahwa Hadiah
Nobel harus diberikan kepada karya -yang merujuk pada Discovery, invention,
atau improvement- yang "bermanfaat bagi kemanusiaan".
Keinginan untuk memberikan hadiah itu berawal dari kesadaran Alfred akan
dahsyatnya daya rusak dinamit, setelah lama ia percaya penemuan dinamit sebagai
lambang perdamaian. Namun, sampai kematiannya, dia tidak pernah menyaksikan
perdamaian benar-benar terwujud di muka bumi. Bahkan formula temuannya itu
dipakai sejumlah pihak untuk merusak perdamaian. Hingga setengah abad kemudian,
Adorno dan Horkheimer menegaskan kekuatiran Alfred sambil berijma', bahwa
"Permasalahan terpenting di dunia sekarang ini adalah, bagaimana kita
bisa mengendalikan teknologi?" untuk lalu menganjurkan "kita semua
harus mengerahkan segala usaha dan kemampuan kita".
Akan menjadi lebih bijak untuk
tidak menanti lebih dari gereget dua post-modernis itu. Wajar jika dua tokoh
mazhab Frankfurt itu lebih menekankan ke-bagaimana-an ketimbang ke-apa-an.
Mereka hidup di pusaran air suatu toples yang sarat dengan Positifisme dan
Pragmatisme, dua arus pemikiran yang tidak mau memahami "Apakah".
Punah atau belum, tidak lagi
penting. Yang jelas, Giddens lebih tahu sejauh mana ekses-ekses keduanya
merembas ke dalam cara hidup dan pola berfikir di toplesnya atau di
toples-toples lainnya.
Apakah pola hidup dan logika
berfikir positifistik dan pragmatis berikut eksesnya mesti dikhawatirkan atau
disambut?
Jelas, jarak antara bagaimana dan
apakah sangat rentang. Apakah berbincang tentang esensi, bagaimana membicarakan
instrumen. Apapun instrumen itu, tidak punya nilai dan tidak perlu penilaian.
Suatu alat dan cara hanya akan bernilai ketika dikaitkan dengan pelaku dan
objektifnya. Jika mempersoalkan cara mengendalikan teknologi untuk perdamaian,
maka persoalan yang tidak terpisahkan adalah apakah perdamaian yang
sesungguhnya? Jika menganjurkan optimalisasi instrumen, alat, kemampuan dan
upaya, maka tidak akan mungkin dilakukan selama pelaku sains, teknologi dan
dinamit tidak pernah diusik; apakah pelaku? Instrumen tergantung pada pelaku.
Ia hanya akan mengarahkan dan mengendalikan instrumen yang digenggamnya searah
dengan pemaknaannya tentang dirinya sendiri dan fungsi instrumen.
Kita selalu mendambakan kebaikan
dan kedamaian. Faktanya, kedamaian dan kebaikan itu beragam, sebanyak pemaknaan
setiap kepala tentangnya. Arah gerak dan modus operandi menempuh kebahagian
ditentukan oleh pengertian kita akan kebagaiaan itu sendiri. Tumbal-menumbal
yang terjadi akhir-akhir ini karena bedanya pemaknaan HAM, kebebasan,
perdamaian, demokrasi, terorisme, seiring dengan perbedaan pada pemaknaan
kepentingan dan kebahagian masing-masing pihak. Semaraknya ketangkasan
berdefinisi di antara pejabat-pejabat tertinggi setiap negara, pasti disambut
senyum Arestoteles. Jika ia diberi umur panjang, anak-anaknya Marx akan
setengah hati mengabadikan firman sang bapak, "Filsuf sibuk hanya dengan
mengartikan dunia, dan aku datang untuk mengubah dunia".
Maka, permasalahan yang sebenarnya,
meski -sekali lagi- perlu waktu dan sabar untuk menanggapinya, adalah
"Apakah kebaikan dan kebahagiaan? Apakah hidup yang bahagia? Apakah hidup?
Siapakah yang hidup? Apakah yang baik? Siapakah yang bahagia?
| |