SIAPA MENULIS APA.........................

cepy's posts with tag: dunia

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog EntryPenderitaan Di Atas DuniaNov 1, '06 11:03 AM
for everyone

Sering sekali kita menemukan dimana-mana terlihat orang-orang merasakan derita dalam hidup mereka. melihatnya, mata ini menjadi penuh akan air mata yang tertahan. Namun, tak ada yang bisa kulakukan. kadang do'a pun tertahan dalam kebodohan dan keterbatasan bahasa.

Rabb.. sepertinya begitu besar ketidakberuntungan yang berada pada pangkuan dan tangan mereka yang menderita itu, dan sedikit sekali mereka menerima berkah dan karunia. apakah berkah itu terbatas dan sempit pembagiannya kah? apakah berkah hanya dirasakan dan dialami oleh mereka yang beruntung saja kah?
karena bahkan ibadah dan permohonan doa dari kita tidak beroleh apapun selama itu belum mengenai KehendakNya..

banyak yang merenung saat memandang penderitaan tanpa henti, kehidupan yang pahit, getirnya siksa dunia, dan perihnya duka yang harus ditanggung oleh mereka yang tidak beruntung itu.
bahkan derita itu beranak bercucu dan berlangsung dalam generasi ke generasi berikutnya, seolah tak ada harapan untuk mereka yang kurang beruntung itu untuk mengubah nasib mereka. atau, hanya keberuntungan sajalah yang kemudian bicara untuk mereka dan mengubah nasib mereka..

rahasia takdir, memang tak diketahui oleh siapapun. namun, tak adakah sedikit saja keringanan, atau petunjuk menuju masa depan yang lebih beruntung itu, agar bisa dicicipi oleh mereka yang kekurangan? ataukah semua terletak pada tangan manusia, untuk saling bantu-membantu dan saling meringankan penderitaan?

bisakah kita memandang dan mendapatkan sisi lain dari apa yang kita pandang itu, mungkin dengan pengamatan yang jeli kita bisa beroleh suatu cahaya hidayah mengenai apa yang bisa kita lakukan untuk meringankan derita mereka?

Blog EntryBumi Gonjang GanjingNov 1, '06 9:36 AM
for everyone
"Jika tidak Tinggal dari dunia kecuali sehari, niscaya ALLAH panjangkan hari itu sampai diutuskan kepadanya seorang lelaki dari keluargaku yang namanya sama dengan namaku dan nama ayahnya sama dengan nama ayahku dan dia memenuhi dunia dengan keadilan seperti dia dipenuhi kedzaliman."

Sabda Rasululullah dari Abdullah bin Mas'ud (riwayat Abu Dawud dan Thabrani)


"Sesungguhnya yang paling menakutkan kami adalah kalau dalam dunia Islam sudah lahir seorang MUHAMMAD BARU "

David Ben Gurion,Perdana Menteri Israel

Dunia yang sedang kita tempati sekarang ini, bukanlah dunia yang kita harapkan. Pada hari ini kita melihat dengan jelas bagaimana Amerika dengan sombongnya menggempur sebuah negara kecil bernama Irak, yang telah di embargonya selama sepuluh tahun lebih, untuk sebuah alasan yang terbukti merupakan kebohongan besar. Senjata Pemusnah Massal tak pernah ditemukan. Orang yang tak bersalah di hujani Bom. Ribuan orang telah mati. Dan tak ada satupun negara yang berani melawannya.

Kelompok-kelompok kecil yang berani melawannya dengan senjata, dijuluki teroris. Kelompok ini, selain tidak pernah menang, ternyata malah memberi sang kaisar peluang untuk mengesahkan tindakannya membabi buta kemana mana.

Pesawat Tempur, Bom dan Satelit yang dimiliki Amerika memang mengesankan. Tetapi semuanya ini tidak bisa mengatasi SARS, AIDS, Drug Resistant Tubercolosis, Penggunaan Narkotik yang semakin meningkat, Angka Perzinahan yang semakin tinggi, dan Rusaknya moral. Kalau anda mengira bahwa bahwa Amerika sedang menegakkan Tatanan Dunia Baru (New World Order) di mana-mana, ketahuilah bahwa senjata mereka yang mengesankan itu tidak mampu menegakkan tatanan apapun di Irak. Satu persatu serdadu Amerika mati setiap hari. Sama sekali tidak ada tatanan apapun yang ditegakkan, apatah lagi "New World Order". "Order" pun tak ada, yang ada adalah kehancuran.

Saat ini juga dapat kita lihat sistem kapitalisme dunia, yang merupakan manifestasi riba dalam bentuknya yang paling buruk, telah berada diambang kebangkrutan. Sistem yang selama ini dipuja puja kebenarannya, ternyata hanya menghasilkan manusia manusia serakah yang membuat sistem ini ambruk dari dalam. Kasus Enron, WorldCom, dan seabrek kasus lainnya sudah membuktikan hal ini. Kejahatan ini dibatasi dengan Peraturan baru, untuk kemudian menghasilkan manusia yang lebih pintar memintas peraturan itu, dan menghasilkan skandal yang lebih hebat.

Pada Hari ini kita melihat lembaga lembaga keuangan dan perdagangan dunia tidak lebih dari rentenir penghisap darah kelas kakap yang memakan bangsa-bangsa yang mempercayainya. Satu persatu sistem keuangan negara negara ini ambruk. Dan bertambah buruk dari hari kehari. Negara dihancurkan, sehingga secara tidak terlihat bangsa itu menjadi bangsa yang tidak merdeka karena dijajah secara ekonomi oleh bangsa lain. Tatanan perdagangan berbagai negara dihancurkan dengan jargon "pasar bebas". Hanya bangsa-bangsa dunia yang dianggap besar yang mampu berdagang secara bebas, bangsa-bangsa yang dianggap terpinggir cukuplah sebagai kuli diantara bangsa bangsa atau konsumen dari produk bangsa besar.

Itu baru sebagian saja dari masalah internasional

Belum lagi masalah nasional, regional, lokal, rumah tangga kita dan seabrek masalah lain yang setiap hari menghampiri kepala kita baik kita sadar maupun tidak. Orang yang cerdik dan pandai, yang kita harap bisa membantu penyelesaian masalah bukannya tidak ada. Akan tetapi, semakin banyak jumlah cerdik pandai, semakin besar kehancuran yang mereka buat di muka bumi ini. Kemudharatan semakin besar, kasih sayang hilang dan hubungan antar manusia penuh rasa curiga.

Pada saat rasa penat menghampiri pikiran kita, kita pun mencoba mencari hiburan. Kita nyalakan televisi. Dan disanalah kita melihat nafsu syahwat dan kebodohan diumbar kemana mana. Akal sehat sudah ditumpas. Syariat Agama apalagi. Akhlak, tidak usahlah kita bicarakan. Dan ketika kita berpindah channel, yang kita lihat adalah sama , sebuah panggung yang bising dengan seorang penyanyi, dan ribuan orang yang tanpa cita2 bergoyang bersama mengikuti irama. Anehnya, Artis yang malamnya katanya menghibur massa, jam setengah empat sore esok harinya diberitakan sedang huru hara keluarganya. Dia bahkan tak kuasa menghibur diri dan keluarganya sendiri. Bagaimana mungkin dia dapat menghibur orang lain ?

Kadang kadang kita lihat juga Acara yang katanya tentang Agama. Anehnya, kita tidak melihat adanya solusi di sana..

Inti dari semua perasaan ini adalah sama, yaitu ketidak-berdayaan kita menghadapi semua masalah ini. Dunia menjadi lebih buruk dari sediakala. Dunia dipenuhi dengan huru hara, manusia meninggalkan Tuhan, yang haram dihalalkan, amalan agama sangat berkurang, dan kalo toh ada, sama sekali tidak membekas akhlak di diri pengamalnya. Krisis terjadi dimana mana.

Melihat Kerusakan Dunia Sekarang ini, Tidak sedikit dari kita yang berpendapat :

"Sudah Selayaknya Dunia ini di Kiamatkan oleh Tuhan"

Jika telah sampai pada kita pikiran semacam itu, ada baiknya kita lihat hadist Nabi berikut ini :

"Jika Cuma tinggal sehari saja sebelum kiamat tiba, niscaya ALLAH pasti akan mengutuskan seorang lelaki dari kaum keluargaku yang akan memenuhi dunia ini dengan keadilan dan keseksamaan, seperti sebelumnya bumi ini dipenuhi oleh penindasan"
Sabda Rasulullah SAW dari Sayidina Ali R.A (Sunan Abu Dawud)


Blog EntryDunia KitaOct 9, '06 11:04 AM
for everyone
Memandang dunia ini dengan segenap kemajuan Zaman, saya teringat kata-kata Anthony Giddens di pengantar bukunya, Modernity and Self Identity, bahwa modernitas pada dasarnya melahirkan perbedaan, pendepakan (kualifikasi) dan marginalisasi. Kalaulah perbedaan dipandang wajar, dua implikasi berikutnya mampu membiakkan sejumlah resiko yang mengerikan. Menurutnya, di dunia modern terkini (high modernity), resiko itu tidak nampak. Tapi itu semua sangat potensial terjadi. Giddens mengkhawatirkan persaingan industri persenjataan, pencemaran lingkungan, pemberangusan total tatanan-tatanan ekonomi dunia, dan akhirnya kebangkitan kekuatan totalitarian.

Kapan terjadi? Kapan saja, secepat perubahan dunia ini yang disebutnya mirip pelari sprint. Maka, setiap saat bisa terjadi pendepakan, seketat tenggat dari satu aksi marginalisasi ke lainnya, dengan menebar luas ekses-eksesnya, seluas arti globalisasi.

Kekhawatiran Giddens bukan yang pertama kalinya. Persis satu abad silam, pengagas Hadiah Nobel, Alfred Nobel, dalam surat wasiatnya tertanggal 27 November 1895, ia menulis bahwa Hadiah Nobel harus diberikan kepada karya -yang merujuk pada Discovery, invention, atau improvement- yang "bermanfaat bagi kemanusiaan". Keinginan untuk memberikan hadiah itu berawal dari kesadaran Alfred akan dahsyatnya daya rusak dinamit, setelah lama ia percaya penemuan dinamit sebagai lambang perdamaian. Namun, sampai kematiannya, dia tidak pernah menyaksikan perdamaian benar-benar terwujud di muka bumi. Bahkan formula temuannya itu dipakai sejumlah pihak untuk merusak perdamaian. Hingga setengah abad kemudian, Adorno dan Horkheimer menegaskan kekuatiran Alfred sambil berijma', bahwa "Permasalahan terpenting di dunia sekarang ini adalah, bagaimana kita bisa mengendalikan teknologi?" untuk lalu menganjurkan "kita semua harus mengerahkan segala usaha dan kemampuan kita".

Akan menjadi lebih bijak untuk tidak menanti lebih dari gereget dua post-modernis itu. Wajar jika dua tokoh mazhab Frankfurt itu lebih menekankan ke-bagaimana-an ketimbang ke-apa-an. Mereka hidup di pusaran air suatu toples yang sarat dengan Positifisme dan Pragmatisme, dua arus pemikiran yang tidak mau memahami "Apakah".

Punah atau belum, tidak lagi penting. Yang jelas, Giddens lebih tahu sejauh mana ekses-ekses keduanya merembas ke dalam cara hidup dan pola berfikir di toplesnya atau di toples-toples lainnya.

Apakah pola hidup dan logika berfikir positifistik dan pragmatis berikut eksesnya mesti dikhawatirkan atau disambut?

Jelas, jarak antara bagaimana dan apakah sangat rentang. Apakah berbincang tentang esensi, bagaimana membicarakan instrumen. Apapun instrumen itu, tidak punya nilai dan tidak perlu penilaian. Suatu alat dan cara hanya akan bernilai ketika dikaitkan dengan pelaku dan objektifnya. Jika mempersoalkan cara mengendalikan teknologi untuk perdamaian, maka persoalan yang tidak terpisahkan adalah apakah perdamaian yang sesungguhnya? Jika menganjurkan optimalisasi instrumen, alat, kemampuan dan upaya, maka tidak akan mungkin dilakukan selama pelaku sains, teknologi dan dinamit tidak pernah diusik; apakah pelaku? Instrumen tergantung pada pelaku. Ia hanya akan mengarahkan dan mengendalikan instrumen yang digenggamnya searah dengan pemaknaannya tentang dirinya sendiri dan fungsi instrumen.

Kita selalu mendambakan kebaikan dan kedamaian. Faktanya, kedamaian dan kebaikan itu beragam, sebanyak pemaknaan setiap kepala tentangnya. Arah gerak dan modus operandi menempuh kebahagian ditentukan oleh pengertian kita akan kebagaiaan itu sendiri. Tumbal-menumbal yang terjadi akhir-akhir ini karena bedanya pemaknaan HAM, kebebasan, perdamaian, demokrasi, terorisme, seiring dengan perbedaan pada pemaknaan kepentingan dan kebahagian masing-masing pihak. Semaraknya ketangkasan berdefinisi di antara pejabat-pejabat tertinggi setiap negara, pasti disambut senyum Arestoteles. Jika ia diberi umur panjang, anak-anaknya Marx akan setengah hati mengabadikan firman sang bapak, "Filsuf sibuk hanya dengan mengartikan dunia, dan aku datang untuk mengubah dunia".

Maka, permasalahan yang sebenarnya, meski -sekali lagi- perlu waktu dan sabar untuk menanggapinya, adalah "Apakah kebaikan dan kebahagiaan? Apakah hidup yang bahagia? Apakah hidup? Siapakah yang hidup? Apakah yang baik? Siapakah yang bahagia?


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help