"Apakah yang bisa Aku ketahui?
"Apakah yang semestinya Aku lakukan?
"Apakah harapan
yang bisa aku raih?
Pertanyaan pertama menyoal diri.
Bagaimanapun seorang skeptis meragukan apapun, ia tidak akan bisa meragukan
realitas (keberadaan) dirinya. Maka, sesuatu yang bisa kita ketahui adalah
realitas diri kita sendiri.
Lalu, apakah realitas diri kita?
Tidak syak lagi, bahwa setiap manusia memiliki masa lalu dan masa depan. Maka,
pertanyaan yang lebih cermat adalah; Pertama, "Apakah masa lalu
diriku?" Kedua, "Apakah masa depan diriku?"
Apapun yang kita lupakan tentang
masa lalu, kita tidak akan lupa bahwa kita pernah tidak ada lalu dilahirkan.
Detik pertama kelahiran itulah awal diri kita sebagai realitas.
Kalau saya teruskan, maka
pertanyaan yang muncul berikutnya adalah "Apakah awal realitasku? Dengan
demikian, buntut pertanyaan pertama itu berkaitan dengan sangkaan (sumber
wujud).
Pertanyaan "Apakah masa
depan diriku?" tidak beda dengan tiga pertanyaan tadi. Tentunya,
menuntaskan masalah masa depan dan harapan kita, akan mengimplikasikan
pertanyaan yang kedua, "Apakah yang semestinya aku lakukan untuk
meraih harapan dan menyongsong masa depan itu?
Singkatnya, pertanyaan pertama
menyoal masalah asal-usul realitas. Kedua menyoal masalah nasib atau akhir
realitas. Dan ketiga menyoal cara hidup (way of life).
"Rahima-llah imra-an a'adda li nafsihi wasta'adda li ramsihi, wa 'alima
min aina, wa fi aina, wa ila aina." Niscaya Allah swt mencurahkan
rahmat-Nya kepada seorang hamba yang mempersiapkan diri dan lahatnya, serta ia
tahu dari mana ia datang, di mana ia berada dan akan kemana ia pergi.(Ali Bin Abi Thalib RA)
Ali menggambarkan kehidupan manusia
laksana perjalanan. Ada awal, ada akhir. Harus hidup berarti harus bergerak
dari titik awal menuju titik akhir. Namun bergerak dalam kegelapan (kebodohan
dan kemasabodohan) tak ubahnya meraba-raba, mereka-reka, penuh ragu dan
gelisah. Siksaan itu menjadi semakin terasa tatkala kegelapan mengkaburkan
titik awal. Anda tidak bisa lagi bergerak. Anda tidak bisa lagi berjalan. Dan,
Anda pun tidak bisa lagi hidup. Anda sudah mati sebelum dimatikan. Sebut saja
dunia ini living dead people, untuk tidak sekasar Scott menjuduli
bukunya, The World, A Crowd of Sleepwalkers . Nasib anda tidak beda
dengan sekawanan manusia yang memilih nihilisme atau bunuh diri, karena
kegelisahan mereka dalam kegelapan titik akhir (makna dan tujuan hidup).
Titik awal itu sepenting titik
akhir. Perjalanan jadi diam dan hidup jadi mati, hanya dengan kehilangan dan
kekaburan salah satu titik. Ali sekali lagi menggeledah kalbu kita, Man lam
ya'rif min aina ja-a, lam ya'rif lia aina yadzhab (dia yang tidak tahu dari
mana datang, niscaya tidak akan tahu kemana akan pergi). Maka, semua bergantung
pada manusia. Nasib dirinya dan dunianya ada di tangannya. Inilah tanggung
jawab terhadap totalitas hidup; awal, akhir dan tengahnya.
Di akhir kontemplasi falsafi, Kant
menyimpulkan, bahwa tiga pertanyaan itu pada dasarnya berasal dari satu
permasalahan saja, yaitu "Apakah Manusia?" kesimpulan ini membebaskan
masalah awal-akhir-tengah itu dari batasan waktu. "Apakah manusia? tidak
hanya berlaku pada jaman modernitas dan globalisasi. Ia tetap relevan pada
setiap manusia yang hidup di setiap saat.
Dulu, Sokrates telah memulai untuk
berusaha melemparkan dirinya keluar dari mulut toples kehidupan masanya yang
sofistis, skeptis, hedonis. Sejak itu pula ia menggugah manusia untuk menyadari
ketololan dirinya sendiri (dekonstruksi), sembari mengajak mereka mengenal
dirinya (rekonstruksi). Di setiap sudut Athena ia mendzikirkan "Gnoti
seauton, meden agan!"Sebuah sabda tujuh filsuf Yunani Kuno yang
terukir di gerbang peribadatan Apollo. Artinya,
"Kenalilah dirimu, dan
jangan keterlaluan!".