Cinta memiliki 2 mata pedang. Satu sisinya adalah rahmat dengan
jaminan kesempurnaan agama dan disisi lainnya adalah gerbang fitnah dan
kehidupan yg sengsara. Karenanya jatuh cinta membutuhkan kesiapan dan
persiapan. Bagi setiap aktivis dakwah, bertanyalah dahulu kepada diri
sendiri, sudah siapkah jatuh cinta???jangan sampai kita lupa, bahwa
segala sesuatu yang melingkupi diri kita, perkataan, perbuatan, maupun
perasaan adalah bagian dari deklarasi nilai diri sebagai generasi
dakwah. Sehingga umat selalu mendapatkan satu hal dari apapun pentas
kehidupan kita, yaitu kemuliaan Islam dan kemuliaan kita karena
memuliakan Islam.
Sekarang adalah saat yang tepat bagi kita untuk mendeklarasikan cinta
diatas koridor yang bersih. Jika proses dan seruan dakwah senantiasa
mengusung pembenahan kepribadiaan manusia, maka layaklah kita tempatkan
tema cinta dalam tempat utama. Kita sadari kerusakan prilaku generasi
hari ini, sebagian besar dilandasi oleh salah tafsir tentang cinta.
Terlalu banyak penyimpangan terjadi, karena cinta didewakan dan
dijadikan kewajaran melakukan pelanggaran. Dan tema tayangan pun
mendeklarasikan cinta yang dangkal. Hanya ada cinta untuk sebuah
persaingan, sengketa. Sementara cinta untuk sebuah kemuliaan, kerja
keras dan pengorbanan, serta jembatan jalan kesurga dan kemuliaan
Allah, tidak pernah mendapat tempat disana.
Sudah
cukup banyak pentas kejujuran kita lakukan. Sudah terbilang jumlah
pengakuan keutamaan kita, sebuah dakwah yang kita gagas, Sudah banyak
potret keluarga yg baru dalam masyarakat yg kita tampilkan. Namun
berapa banyak deklarasi cinta yang sudah kita nyatakan. Cinta masih
menjadi topik ‘asing’ dalam dakwah kita. Wajah, warna, ekspresi dan
nuansa cinta kita masih terkesan ‘misteri. Pertanyaan sederhana,
“Gimana sih, kok kamu bisa nikah sama dia, Emang kamu cinta sama dia?”,
dapat kita jadikan indikator miskinnya kita mengkampanyekan cinta suci
dalam dakwah ini.
Pernyataan ‘Nikah dulu baru pacaran’ masih
menjadi jargon yang menyimpan pertanyaan misteri, “Bagaimana caranya,
emang bisa?”. Sangat sulit bagi masyarakat kita untuk mencerna dan
memahami logika jargon tersebut. Terutama karena konsumsi informasi
media tayangan, bacaan, diskusi dan interaksi umum, sama sekali
bertolak belakang dengan jargon tersebut.
Inilah salah satu
alasan penting dan mendesak untuk mengkampanyekan cinta dengan wujud
yang baru. Cinta yang lahir sebagai bagian dari penyempurnaan status
hamba. Cinta yang diberkahi karena taat kepada sang Penguasa. Cinta
yang diberkahi karena taat pada sang penguasa. Cinta yang menjaga diri
dari penyimpangan, penyelewengan dan perbuatan ingkar terhadap nikmat
Allah yang banyak. Cinta yang berorientasi bukan sekedar jalan berdua,
makan, nonton dan seabrek romantika yang berdiri diatas pengkhianatan
terhadap nikmat, rezki, dan amanah yang Allah berikan kepada kita.
Kita
ingin lebih dalam menjabarkan kepada masyarakan tentang cinta ini.
Sehingga masyarakat tidak hanya mendapatkan hasil akhir keluarga
dakwah. Biarkan mereka paham tentang perasaan seorang ikhwan terhadap
akhwat, tentang perhatian seorang akhwat pada ikhwan, tentang cinta
ikhwan-akhwat, tentang romantika ikhwan-akhwat dan tentang landasan
kemana cinta itu bermuara. Inilah agenda topik yang harus lebih banyak
dibuka dan dibentangkan. Dikenalkan kepada masyarakat berikut mekanisme
yang menyertainya. Paling tidak gambaran besar yang menyeluruh dapat
dinikmati oleh masyarakat, sehingga mereka bisa mengerti bagaimana
proses panjang yang menghasilkan potret keluarga dakwah hari ini.