cepy's posts with tag: bunuh diri
What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Astaghfirullah, Angka Kematian bunuh
diri atau percobaan bunuh diri sekarang makin meningkat. Saking
besarnya jumlah kasus yang terjadi, masalah itu pun dijadikan tema
utama Hari Kejiwaan Dunia alias World Mental Health Day oleh World
Health Organization (WHO) yang jatuh pada Selasa, 10 Oktober lusa.
Tema
bunuh diri dianggap perlu dikampanyekan pencegahannya karena di dunia
ini terjadi satu kasus pada setiap 40 detik. Menurut perkiraan WHO,
satu juta orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun. Angka
percobaan bunuh diri lebih mengerikan, 20-50 juta orang setiap tahun.
Sayangnya,
di Indonesia tidak ada data statistik yang bisa menunjukkan seberapa
tinggi angka kematian akibat bunuh diri. Tapi tahun ini
diperkirakan memang ada peningkatan.
Bila saya ambil contoh angka
percobaan bunuh diri (PBD) yang dihimpun Instalasi Rawat Darurat (IRD)
RSU dr Soetomo bahkan menunjukkan peningkatan cukup tinggi. Pada 2005,
tercatat ada 74 kasus percobaan. Pada 2006 ini, antara Januari hingga
Juli, angkanya sudah mencapai 92 kasus.
Sepintas, angkanya
memang hanya di kisaran puluhan, terkesan kecil. Namun kasus bunuh diri tersebut layaknya fenomena
gunung es.Kasus yang terungkap sedikit, padahal yang terjadi di
lapangan lebih banyak. Itu disebabkan lemahnya sistem pendataan di
seluruh Indonesia.
Begitu pula dengan percobaan bunuh
diri. Jumlahnya mungkin jauh lebih besar daripada yang sebenarnya
terjadi.
Dari data yang dihimpun RSU dr Soetomo itu didapati
bahwa di antara total 24 kasus bunuh diri di Surabaya tahun ini, 16
kasus dilakukan oleh laki-laki. Delapan sisanya dilakukan perempuan.
Namun, untuk percobaan bunuh diri, yang banyak justru perempuan.
Tindakan bunuh diri yang berujung pada kematian memang sering
dilakukan laki-laki. Itu merupakan fenomena dunia, bukan hanya di Indonesia. Sebab, bila seorang laki-laki bunuh diri, mereka sudah
benar-benar bertekad. Tak heran, cara gantung diri banyak dipilih
laki-laki. Sebab, cara tersebut merupakan tindakan tercepat menuju
kematian.
Bila laki-laki lebih memilih cara gantung diri, kaum
hawa lebih "menyukai" mengonsumsi bahan yang mengandung racun. Cara
itu mudah ditangani. Sebab, rata-rata wanita melakukan bunuh diri untuk
menarik perhatian. Niatnya tidak sebulat kaum laki-laki.
Dilihat
dari segi umur, usia produktif (20-40 tahun) mendominasi kasus
percobaan bunuh diri. Pada usia tersebut, seseorang rentan mengalami persoalan dalam
hidupnya.
Dia menjelaskan, dari data intoksikasi (keracunan)
yang masuk ke IRD, 70 persen disebabkan keracunan obat serangga,
obat-obatan dengan dosis tinggi, racun tikus, dan bahan pembersih
lantai. Seseorang yang mengonsumsi bahan-bahan tersebut tentu bermotif
untuk bunuh diri.
Banyak korban percobaan bunuh
diri yang tidak dilarikan ke rumah sakit atau ke dokter. Pertama,
mungkin anggota keluarga malu atas perbuatan tersebut. Kedua, percobaan
yang dilakukan belum berakibat fatal.
Banyak yang melakukan
percobaan bunuh diri hanya untuk menarik perhatian. Orang-orang seperti
itu justru harus segera mendapatkan pertolongan. Sebab, tindakan
tersebut bisa diulanginya.
Hampir 80 persen orang yang pernah
melakukan percobaan bunuh diri akan mencoba mengulanginya di kemudian
hari. Hal itu khususnya terjadi pada orang-orang dengan kepribadian
kurang matang, impulsif, dan introvert (menutup diri).
Penyebab bunuh diri sangatlah kompleks. Ada perbedaan yang
signifikan soal alasan bunuh diri di negara-negara Barat dan di negara
berkembang. Di Barat, bunuh diri banyak terjadi karena kecanduan
alkohol, obat-obat terlarang, dan seputar persoalan pribadi.
Di
negara berkembang, bunuh diri banyak disebabkan faktor politik,
ekonomi, sosial, dan budaya. Penyebabnya lebih kompleks.
Pilihan tema pencegahan bunuh diri
pada Hari Kejiwaan Dunia Selasa nanti merupakan pilihan yang pas.
Sangat cocok, khususnya untuk negara-negara seperti Indonesia. Indonesia ini bukan hanya mengalami keterpurukan ekonomi, tapi juga
merasakan terjadinya pergeseran nilai-nilai sosial.
| |