cepy's posts with tag: buku
What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
| Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | rame-rame |
POTONGAN CERITA DI KARTU POS Agus Noor, Kompas Jakarta, Oktober 2006 (Kumpulan Cerpen).
1. TERAPI NLP, MEMBANGUNKOMUNIKASI YANG KOMUNIKATIF Dr Ibrahim Elfiky, Hikmah Jakarta, September 2006 (Motivasi).
2. MENALAR TUHAN Franz Magnis Suseno, Kanisius Jogja, September 2006 ( Cet. 5, Filsafat).
3. MISTERI SEMESTA, PERJALANAN SEMESTA MENEMBUS LORONG-LORONG KESADARAN KOSMIK Ahmed Hulusi, Aum Publishing Surabaya, September 2006 (Spiritualisme).
4. MUKJIZAT SURAH-SURAH ALQURAN Haidar Ahmad al A’raji, Zahra Jakarta, September 2006 (Akidah).
5. MANEJEMEN PERGURUAN TINGGI MODERN R. Eko Indrajit & R. Djokopranoto, Penerbit Andi Jogja, September 2006 (Pendidikan).
6. NUBUAT NABI DANIEL (AS): PERANG ISLAM VS BARAT Muhammad A., Aum Publishing Surabaya, September 2006 (Wacana Agama).
7. AGENDA POLITIK INTERNASIONAL Lynn H. Miller, Pustaka Pelajar Jogja, September 2006 (Politik).
| Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | Rame-rame |
ILMU USHUL HADIS Prof Dr Muhammad Alawi Al-Maliki, Pustaka Pelajar Jogja, September 2006 (Wacana Agama).
1. THE BLESSING Gregory Orr, Elex Media Komputindo Jakarta, September 2006 (Inspirasi).
2. BOUNDLESS LOCE, CINTA TANPA BATAS Miranda Holden, Hikmah Jakarta, September 2006 (Spiritualisme).
3. TEORI RELATIVITAS EINSTEIN, PENJELASAN POPULER UNTUK UMUM Bertrand Russell, Pustaka Pelajar Jogja, September 2006 (Populer).
4. RINGKASAN KEYAKINAN ISLAM Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari dan Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamad, Pustaka eLBA Surabaya, Agustus 2006 (Wacana Islam).
5. FSQ (FINANCIAL SPIRITUAL QUOTIENT) Imam Supriyono, Lutfansah Mediatama & SNF Consulting, Agustus 2006 (Pengembangan Diri).
6. DOCTORS, MARKET YOURSELVES ATAU PRAKTIK ANDA TIDAK LAKU? dr Yusuf Alam Romadlon, Tiga Serangkai Solo, 2006 (Kedokteran).
7. THINKING OUT OF THE BOX FOR PROFIT Nur Kuntjoro, CAC Publishing Jakarta, Agustus 2006 (Manajemen).
8. YOU’RE FIRED! NO PROBLEM Bartono PH SE dan Ruffino EM SE, Elex Media Komputindo dan Jubilee Enterprise, September 2006 (Motivasi).
9. HOW CAN I FORGIVE YOU? Janis Abrahms Spring PhD, GagasMedia Jakarta, Septeber 2006 (Populer).
10. PRAGMATIK George Yule, Pustaka Pelajar Jogja, September 2006 (Linguistik).
Bangsa kita yang dulu berjaya lewat karya
budaya dan sastra kini terpelanting dalam kubangan. Tetapi ada hal yang
lebih memasygulkan hati: koleksi buku yang dikumpulkan dengan susah
payah di kamar kos malahan dicuri. Makin menjengkelkan saat kita tahu
teman sendiri pelakunya. Bilangnya sih pinjam. Tapi kok tak pernah
kembali?
Pencurian buku tentu saja berkaitan dengan budaya
bangsa ini yang selalu menganggap sepele segala sesuatu. Padahal untuk
bisa membeli buku (bagi saya yang keturunan proletar) susahnya minta
ampun. Terkadang, dan lebih sering, demi sebuah buku harus merelakan
diri makan mie instan tiap hari.
Di sisi lain, buku-buku kuno
yang tak ada lagi di pasaran raib pun tak luput dari "si tangan
panjang". Bisa dibayangkan betapa susahnya mendapatkan buku-buku kuno
itu, apalagi para "bakul buku" rata-rata melek buku, tahu mana
buku tua yang berharga dan mana buku lawas yang kacangan, sehingga
mereka tahu kapan harus memberi banderol tinggi dan kapan memasang
banderol murah.
Di perpustakaan kampus (kebanyakan kampus
negeri), buku-buku meskipun banyak yang masih bersampul tetapi isinya,
ya ampun, berhelai-helai halaman raib di sana-sini. Apalagi buku-buku
tentang penelitian (dari skripsi hingga tesis), biasanya yang tersisa
hanya sampulnya saja. Biasanya, para petugas perpustakaan (saya tak
tahu apa bedanya dengan pustakawan) tak pernah menyelidiki. Mungkin
malas. (Atau jangan-jangan mereka oknumnya?)
Herannya, mereka
cepat tanggap (layaknya anggota Bakornas Bencana Alam) tiap kali ada
peminjam buku yang telat mengembalikan buku. Soalnya ada embel-embel
ongkos denda telat mengembalikan. Tapi, tanpa bermaksud mencurigai,
saya sungguh heran: betapa pun banyak yang kena denda, kok koleksi
bukunya masih itu-itu saja. Paling banter yang bertambah koleksi
skripsi dan diktat kuliah dosen.
Ada lagi kisah yang bikin
masygul. Ini kabar yang sungguh memprihatinkan. Di Perpustakaan Daerah
Jogja (di bilangan jalan masyhur Malioboro), buku-buku dan koran-koran
kiri di zaman (mbah) Aidit masih menjabat ketua umum PKI dibiarkan
teronggok dalam sebuah ruang kecil, gelap, berdebu, lagi pengap dan tak
terakses. Tepatnya: tak boleh diakses.
Seorang rekan
terang-terangan bilang pada saya, daripada dimakan rayap, curi saja
dokumen itu. Jika ketahuan, paling digebuki. Dan, kalau mati, kata
teman saya itu, status matinya "syahid". Demi persebaran ilmu
pengetahuan. Demi kemajuan bangsa (waduh!). Dalam hati saya mengamini,
kendati di mulut saya bilang: jangan, ah! Seorang karib yang sok bijak
malah pernah melansir ide ingin mengajukan proposal agar diizinkan
untuk mengerahkan gerombolannya khusus untuk membersihkan dan merawat
dokumen-dokumen tua dari sebelah "kiri jalan" itu. Tanpa bayaran.
Kecuali, gratis kalau mau foto copy.
Lain perpustakaan lain
pula rental buku. Jika petugas perpustakaan digaji pemerintah, maka
penjaga rental buku digaji oleh maju mundurnya usaha. Gaji ini ternyata
berpengaruh terhadap kinerja dalam memerlakukan buku. Meski demikian,
nasib buku di rental buku sama saja tak bisa lepas dari pencurian. Yang
membedakan adalah, di rental buku penjagaannya lebih tertib dan ketat
(hanya kalah ketat dari LP Krobokan tempat Imam Samudera ditahan). Jika
selembar saja halaman buku yang disewa raib, siap-siap saja mengganti
seharga buku yang dirusak.
Untuk mencegah pencurian buku
agaknya memang harus kejam. Pasalnya banyak rental-rental buku
yang kurang kejam (dan terlalu manusiawi) justru gulung tikar.
Gara-gara disewa dan tak kembali, para pengola rental buku banyak yang
bangkrut. Meskipun telah diberlakukan sistem member dengan menyerahkan
fotocopy identitas diri (KTP), tetap saja tindak pencurian di rental
masih berlangsung. Inilah ajaibnya: orang sepertinya lebih memilih buku
daripada KTP-nya. Bukankah biaya pembuatan KTP jauh lebih murah
daripada sebuah buku (apalagi kalau sekdes yang tukang bikin KTP adalah
sedulur sendiri)?
Namun Jogja telah menginspirasi pencegahan
pencurian buku. Adalah perpustakaan Kolese Ignatius yang cerdik
mengakali para pencuri buku. Semua koleksi bukunya tak boleh dipinjam,
kalau butuh ya harus baca di tempat atau fotocopy langsung. Kebijakan
ini ternyata efektif untuk mengurangai pencurian buku sekaligus
mencegah dosa. Perpustakaan Kolsani, demikian anak Jogja menyebutnya,
tetap saja menyisakan pertanyaan bagi para papa: "Fotocopy-nya kok
mahal?" Selembar dihargai Rp 150,-. Ini akan menguras kantong jika yang
di-copy adalah Das Kapital-Karl Marx atau Tafsir Al-Manar.
Hingga
hari ini memang belum ada penelitian yang bisa mengungkap jumlah buku
yang tercuri dalam sehari dan motif pencurian, selain rasa ingin
memiliki dengan jalan pintas. Hanya saja saya punya pengalaman pribadi
soal pencurian buku. Jujur, saya pernah mencuri buku. Tapi jauh-jauh
hari sebelum Ramadan tahun ini saya telah bertobat. Pasalnya, saya
hanya mencuri satu buku, ealah… buku saya yang dicuri malah lebih
banyak: lima buku!
Kejadian itu berkali-kali saya alami. Dan,
hasilnya sama: buku-bukuku tetap raib dan IQ-ku tak bisa melambung
setinggi IQ-nya Einstein. Mungkin ini yang namanya kualat.
 | Category: | Books | | Genre: | Biographies & Memoirs | | Author: | Bangun Lubis dan Alfrenzi Panggarbesi |
Mau tahu 50 tokoh sukses yang berkiprah di Sumsel dari berbagai sudut pandang? Kini sudah di luncurkan buku berjudul Kiprah 50 Tokoh di Sumsel. Namun sayangnya kehadiran buku ini masih harus menuai kritik, karena dinilai masih banyak memiliki kelemahan, baik segi penulisanmaupun layout-nya. 
| |