cepy's posts with tag: bilal
What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Setelah membaca postingannya Didi (heavans): dia yang membuatku malu...
 Namaku Bilal.
Ayahku bernama Rabah, seorang budak dari Abesinia, oleh karena itu nama
panjangku Bilal Bin Rabah. Aku tidak tahu mengapakah Ayah dan Ibuku
sampai di sini, Makkah. Sebuah tempat yang hanya memiliki
benderang matahari, hamparan sahara dan sedikit pepohonan. Aku seorang
budak yang menjadi milik tuannya. Umayyah, biasa tuan saya itu
dipanggil. Seorang bangsawan Quraisy, yang hanya peduli pada harta dan
kefanaan. Setiap jeda, aku harus bersiap kapan saja dilontarkan
perintah. Jika tidak, ada cambuk yang menanti akan mendera bagian tubuh
manapun yang disukainya.
Setiap waktu adalah sama, semua hari juga serupa tak ada bedanya, yakni
melayani majikan dengan sempurna. Hingga suatu hari aku mendengar
seseorang menyebutkan nama Muhammad. Tadinya aku tak peduli, namun
kabar yang ku dengar membuatku selalu memasang telinga baik-baik.
Muhammad, mengajarkan agama baru yaitu menyembah Tuhan yang maha
tunggal. Tidak ada tuhan yang lain. Aku tertarik dan akhirnya, aku
bersyahadat diam-diam.
Namun, pada suatu hari majikanku mengetahuinya. Aku sudah tahu
kelanjutannya. Mereka memancangku di atas pasir sahara yang membara.
Matahari begitu terik, seakan belum cukup, sebuah batu besar menindih
dada ini. Mereka mengira aku akan segera menyerah. Haus seketika
berkunjung, ingin sekali minum. Aku memintanya pada salah seorang dari
mereka, dan mereka membalasnya dengan lecutan cemeti berkali-kali.
Setiap mereka memintaku mengingkari Muhammad, aku hanya berucap
“Ahad... ahad”. Batu diatas dada mengurangi kemampuanku berbicara
sempurna. Hingga suatu saat, seseorang menolongku, Abu Bakar menebusku
dengan uang sebesar yang Umayyah minta. Aku pingsan, tak lagi tahu apa
yang terjadi.
Segera setelah sadar, aku dipapah Abu Bakar menuju sebuah tempat
tinggal Nabi Muhammad. Kakiku sakit tak terperi, badanku hampir tak
bisa tegak. Ingin sekali rubuh, namun Abu Bakar terus membimbingku
dengan sayang. Tentu saja aku tak ingin mengecewakannya. Aku harus
terus melangkah menjumpai seseorang yang kemudian ku cinta sampai nafas
terakhir terhembus dari raga. Aku tiba di depan rumahnya. Ada dua sosok
disana. Yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib sepupunya yang masih
sangat muda dan yang di sampingnya adalah dia, Muhammad.
Muhammad, aku memandangnya lekat, tak ingin mata ini berpaling. Ku
terpesona, jatuh cinta, dan merasakan nafas yang tertahan dipangkal
tenggorokan. Wajahnya melebihi rembulan yang menggantung di angkasa
pada malam-malam yang sering ku pandangi saat istirahat menjelang.
Matanya jelita menatapku hangat. Badannya tidak terlalu tinggi tidak
juga terlau pendek. Dia adalah seorang yang jika menoleh maka seluruh
badannya juga. Dia menyenyumiku, dan aku semakin mematung, rasakan
sebuah aliran sejuk sambangi semua pori-pori yang baru saja dijilati
cemeti.
Dia bangkit, dan menyongsongku dengan kegembiraan yang nampak sempurna.
Bahkan hampir tidak ku percaya, ada genangan air mata di pelupuk
pandangannya. Ali, saat itu bertanya “Apakah orang ini menjahati
engkau, hingga engkau menangis”. “Tidak, orang ini bukan penjahat, dia
adalah seorang yang telah membuat langit bersuka cita”, demikian
Muhammad menjawab. Dengan kedua tangannya, aku direngkuhnya, di peluk
dan di dekapnya, lama. Aku tidak tahu harus berbuat apa, yang pasti
saat itu aku merasa terbang melayang ringan menjauhi bumi. Belum pernah
aku diperlakukan demikian istimewa.
Selanjutnya aku dijamu begitu ramah oleh semua penghuni rumah. Ku duduk
di sebelah Muhammad, dan karena demikian dekat, ku mampu menghirup
wewangi yang harumnya melebihi aroma kesturi dari tegap raganya. Dan
ketika tangan Nabi menyentuh tangan ini begitu mesra, aku merasakan
semua derita yang mendera sebelum ini seketika terkubur di kedalaman
sahara. Sejak saat itu, aku menjadi sahabat Muhammad.
Kau tidak akan pernah tahu, betapa aku sangat beruntung menjadi salah
seorang sahabatnya. Itu ku syukuri setiap detik yang menari tak henti.
Aku Bilal, yang kini telah merdeka, tak perlu lagi harus berdiri
sedangkan tuannya duduk, karena aku sudah berada di sebuah keakraban
yang mempesona. Aku, Bilal budak hitam yang terbebas, mereguk setiap
waktu dengan limpahan kasih sayang Al-Musthafa. Tak akan ada yang ku
inginkan selain hal ini.
Oh iya, aku ingin mengisahkan sebuah pengalaman yang paling membuatku berharga dan mulia. Inginkah kalian mendengarnya?
Di Yathrib, mesjid, tempat kami, umat Rasulullah beribadah telah
berdiri. Bangunan ini dibangun dengan bahan-bahan sederhana. Sepanjang
hari, kami semua bekerja keras membangunnya dengan cinta, hingga kami
tidak pernah merasakan lelah. Nabi memuji hasil kerja kami, senyumannya
selalu mengembang menjumpai kami. Ia begitu bahagia, hingga selalu
menepuk setiap pundak kami sebagai tanda bahwa ia begitu berterima
kasih. Tentu saja kami melambung.
Kami semua berkumpul, meski mesjid telah selesai dibangun, namun terasa
masih ada yang kurang. Ali mengatakan bahwa mesjid membutuhkan penyeru
agar semua muslim dapat mengetahui waktu shalat telah menjelang. Dalam
beberapa saat kami terdiam dan berpandangan. Kemudian beberapa sahabat
membicarakan cara terbaik untuk memanggil orang-orang.
“Kita dapat menarik bendera” seseorang memberikan pilihan.
“Bendera tidak menghasilkan suara, tidak bisa memanggil mereka”
“Bagaimana jika sebuah genta?”
“Bukankah itu kebiasaan orang Nasrani”
“Jika terompet tanduk?”
“Itu yang digunakan orang Yahudi, bukan?”
Semua yang hadir di sana kembali terdiam, tak ada yang merasa puas
dengan pilihan-pilihan yang dibicarakan. Ku lihat Nabi termenung, tak
pernah ku saksikan beliau begitu muram. Biasanya wajah itu seperti
matahari di setiap waktu, bersinar terang. Sampai suatu ketika, adalah
Abdullah Bin Zaid dari kaum Anshar, mendekati Nabi dengan malu-malu.
Aku bergeser memberikan tempat kepadanya, karena ku tahu ia ingin
menyampaikan sesuatu kepada Nabi secara langsung.
“Wahai, utusan Allah” suaranya perlahan terdengar. Mesjid hening, semua
mata beralih pada satu titik. Kami memberikan kepadanya kesempatan
untuk berbicara.
“Aku bermimpi, dalam mimpi itu ku dengar suara manusia memanggil kami
untuk berdoa...” lanjutnya pasti. Dan saat itu, mendung di wajah
Rasulullah perlahan memudar berganti wajah manis berseri-seri. “Mimpimu
berasal dari Allah, kita seru manusia untuk mendirikan shalat dengan
suara manusia juga….”. Begitu nabi bertutur.
Kami semua sepakat, tapi kemudian kami bertanya-tanya, suara manusia
seperti apa, lelakikah?, anak-anak?, suara lembut?, keras? atau
melengking? Aku juga sibuk memikirkannya. Sampai kurasakan sesuatu
diatas bahuku, ada tangan Al-Musthafa di sana. “Suara mu Bilal” ucap
Nabi pasti. Nafasku seperti terhenti.
Kau tidak akan pernah tahu, saat itu aku langsung ingin beranjak
menghindarinya, apalagi semua wajah-wajah teduh di dalam mesjid
memandangku sepenuh cinta. “Subhanallah, saudaraku, betapa bangganya
kau mempunyai sesuatu untuk kau persembahkan kepada Islam” ku dengar
suara Zaid dari belakang. Aku semakin tertunduk dan merasakan sesuatu
bergemuruh di dalam dada. “Suaramu paling bagus duhai hamba Allah,
gunakanlah” perintah nabi kembali terdengar. Pujian itu terdengar
tulus. Dan dengan memberanikan diri, ku angkat wajah ini menatap Nabi.
Allah, ada senyuman rembulannya untukku. Aku mengangguk.
Akhirnya, kami semua keluar dari mesjid. Nabi berjalan paling depan,
dan bagai anak kecil aku mengikutinya. “Naiklah ke sana, dan panggillah
mereka di ketinggian itu” Nabi mengarahkan telunjuknya ke sebuah atap
rumah kepunyaan wanita dari Banu’n Najjar, dekat mesjid. Dengan
semangat, ku naiki atap itu, namun sayang kepalaku kosong, aku tidak
tahu panggilan seperti apa yang harus ku kumandangkan. Aku terdiam
lama.
Di bawah, ku lihat wajah-wajah menengadah. Wajah-wajah yang memberiku
semangat, menelusupkan banyak harapan. Mereka memandangku, mengharapkan
sesuatu keluar dari bibir ini. Berada diketinggian sering memusingkan
kepala, dan ku lihat wajah-wajah itu tak mengharapkan ku jatuh. Lalu ku
cari sosok Nabi, ada Abu Bakar dan Umar di sampingnya. “Ya Rasul Allah,
apa yang harus ku ucapkan?” Aku memohon petunjuknya. Dan kudengar
suaranya yang bening membumbung sampai di telinga “ Pujilah Allah,
ikrarkan Utusan-Nya, Serulah manusia untuk shalat”. Aku berpaling dan
memikirkannya. Aku memohon kepada Allah untuk membimbing ucapanku.
Kemudian, ku pandangi langit megah tak berpenyangga. Lalu di kedalaman suaraku, aku berseru :
Allah Maha Besar. Allah Maha Besar
Aku bersaksi tiada Tuhan Selain Allah
Aku bersaksi bahwa Muhammad Utusan Allah
Marilah Shalat
Marilah Mencapai Kemenangan
Allah Maha Besar. Allah Maha Besar
Tiada Tuhan Selain Allah.
Ku sudahi lantunan. Aku memandang Nabi, dan kau akan melihat saat itu
Purnama Madinah itu tengah memandangku bahagia. Ku turuni menara, dan
aku disongsong begitu banyak manusia yang berebut memelukku. Dan ketika
Nabi berada di hadapan ku, ia berkata “Kau Bilal, telah melengkapi
Mesjidku”.
Aku, Bilal, anak seorang budak, berkulit hitam, telah dipercaya menjadi
muadzin pertama, oleh Dia, Muhammad, yang telah mengenyahkan begitu
banyak penderitaan dari kehidupan yang ku tapaki. Engkau tidak akan
pernah tahu, mengajak manusia untuk shalat adalah pekerjaan yang
dihargai Nabi begitu tinggi. Aku bersyukur kepada Allah, telah
mengaruniaku suara yang indah. Selanjutnya jika tiba waktu shalat, maka
suaraku akan memenuhi udara-udara Madinah dan Makkah.
Hingga suatu saat,
Manusia yang paling ku cinta itu dijemput Allah dengan kematian
terindahnya. Purnama Madinah tidak akan lagi hadir mengimami kami. Sang
penerang telah kembali. Tahukah kau, betapa berat ini ku tanggung
sendirian. Aku seperti terperosok ke sebuah sumur yang dalam. Aku
menangis pedih, namun aku tahu sampai darah yang keluar dari mata ini,
Nabi tak akan pernah kembali. Di pangkuan Aisyah, Nabi memanggil
‘ummatii… ummatiii’ sebelum nafas terakhirnya perlahan hilang. Aku
ingat subuh itu, terkakhir nabi memohon maaf kepada para sahabatnya,
mengingatkan kami untuk senantiasa mencintai kalam Ilahi. Kekasih Allah
itu juga mengharapkan kami untuk senantiasa mendirikan shalat. Jika ku
kenang lagi, aku semakin ingin menangis. Aku merindukannya, sungguh,
betapa menyakitkan ketika senggang yang kupunya pun aku tak dapat lagi
mendatanginya.
Sejak kematian nabi, aku sudah tak mampu lagi berseru, kedukaan yang
amat membuat ku lemah. Pada kalimat pertama lantunan adzan, aku masih
mampu menahan diri, tetapi ketika sampai pada kalimat Muhammad, aku tak
sanggup melafalkannya dengan sempurna. Adzanku hanya berisi isak tangis
belaka. Aku tak sanggup melafalkan seluruh namanya, ‘Muhammad’. Jangan
kau salahkan aku. Aku sudah berusaha, namun, adzanku bukan lagi seruan.
Aku hanya menangis di ketinggian, mengenang manusia pilihan yang
menyayangiku pertama kali. Dan akhirnya para sahabat memahami kesedihan
ini. Mereka tak lagi memintaku untuk berseru.
Sekarang, ingin sekali ku memanggil kalian… memanggil kalian dengan
cinta. Jika kalian ingin mendengarkan panggilanku, dengarkan aku, akan
ada manusia-manusia pilihan lainnya yang mengumandangkan adzan. Saat
itu, anggaplah aku yang memanggil kalian. Karena, sesungguhnya aku
sungguh merindui kalian yang bersegera mendirikan shalat.
Alhamdulillah kisahku telah sampai, ku sampaikan salam untuk kalian.
Wassalamu’alaikum
Saudaraku, jika adzan bergema, kita tahu yang seharusnya kita lakukan.
Ada Bilal yang memanggil. Tidakkah, kita tersanjung dipanggil Bilal.
Bersegeralah menjumpai Allah, hadirkan hatimu dalam shalatmu, dan Allah
akan menatapmu bahagia. Saya jadi teringat sebuah kata mutiara yang
dituliskan sahabat saya pada buku kenangan ketika SD "shalatlah
sebelum kamu di shalatkan”. Sebuah kalimat yang sarat makna jika
direnungkan dalam-dalam.
| |