cepy's posts with tag: amal
What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Suatu ketika Rasulullah SAW bersabda, ''Termasuk dari kebaikan
keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat
baginya.'' (HR Tirmidzi). Hadis ini merupakan salah satu pokok dari
beberapa ketentuan adab seorang Muslim. Maksud hadis ini sangatlah
jelas bahwa meninggalkan segala hal yang tidak mendatangkan manfaat
baik ucapan maupun perbuatan adalah termasuk tanda kesempurnaan
kualitas keislaman seorang hamba.
Perlu diketahui di sini bahwa makna meninggalkan yang tidak bermanfaat
dalam hadis tersebut bukan dipahami bermanfaat sesuai dengan hukum hawa
nafsu, namun disesuaikan dengan hukum Islam. Oleh karenanya Rasulullah
SAW menegaskan dengan kalimat min husni islamil mar'i (termasuk dari
kebaikan keislaman seseorang). Jika kualitas keislaman seorang hamba
semakin baik, maka dampak yang ditimbulkan adalah dorongan untuk
meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat juga semakin tinggi. Hal
yang tidak bermanfaat itu bisa berupa sesuatu yang diharamkan Allah SWT
dan Rasul-Nya, yang masih dalam kategori syubhat, makruh, atau pun
berlebih-lebihan.
Seiring dengan kualitas keislaman yang semakin baik, pada
gilirannya akan melahirkan rasa malu kepada Allah SWT. Dengan rasa malu
itulah seseorang akan senantiasa memperelok dirinya dengan hiasan
amalan yang baik dan meninggalkan segala perbuatan yang memalukan di
hadapan Allah SWT. Ibnu Rajab Al-Hanbali menulis, ada orang bijak yang
mengatakan, ''Malulah kamu kepada Allah SWT karena kedekatan-Nya darimu
dan takutlah kamu kepada Allah SWT karena kuasa-Nya atasmu. Jika kamu
berbicara maka ingatlah bahwa Allah SWT mendengar ucapanmu dan jika
kamu diam maka ingatlah bahwa Allah SWT melihatmu.''
Allah SWT berfirman, ''Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan
manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih
dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua malaikat
mencatat amal perbuatannya, duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk
di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di
dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS Qaaf [50]: 16-18).
Kualitas iman seorang hamba adalah sebagaimana pakaian.
Kadangkala ia dapat menjadi usang yang sebelumnya bagus. Oleh sebab itu
jauh-jauh hari kita diperintahkan untuk senantiasa mentajdid
(memperbarui) keimanan kita. Maka meninggalkan segala hal yang tidak
bermanfaat adalah langkah awal yang harus diupayakan. Selanjutnya, hal
itu dapat ditindaklanjuti dengan mengerjakan apa saja yang dapat
mendatangkan manfaat dan guna bagi diri sendiri serta sesama.
Banyak sudah keterangan dari Rasulullah SAW tentang pahala yang
berlipat bagi orang yang mengerjakan kebaikan. Namun yang perlu
dicermati di sini adalah hal itu tergantung dengan kesempurnaan
keislaman seseorang. Rasulullah SAW bersabda, ''Jika salah seorang dari
kalian telah sempurna keislamannya, maka setiap satu (amal) kebaikan
yang dikerjakannya akan dicatat sebanyak sepuluh sampai tujuh ratus
kali lipat. Dan setiap satu keburukan yang dikerjakannya akan dicatat
sebagaimana halnya hingga ia bertemu dengan Allah SWT.'' (HR Muslim).
Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih awal
menjelang ashar. Fatimah binti Rasulullah menyambut kedatangan suaminya
yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali
membawa uang lebih banyak karena keperluan di rumah makin besar.
Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah. "Maaf sayangku, kali
ini aku tidak membawa uang sepeserpun."
Fatimah menyahut sambil tersenyum, "Memang yang mengatur rezeki
tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah
Ta'ala". "Terima kasih," jawab Ali. Matanya memberat lantaran isterinya
begitu tawakal. Padahal keperluan dapur sudah habis sama sekali. Walau
demikian Fatimah tidak menunjukan sikap kecewa atau sedih.
Ali
lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan shalat berjamaah. Sepulang
dari shalat, di jalan ia dihentikan oleh seorang tua. "Maaf anak muda,
betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?" Ali menjawab dengan heran. "Ya
betul. Ada apa, Tuan?". Orang tua itu mencari kedalam kantongnya
sesuatu seraya berkata: "Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit.
Aku belum sempat membayar upahnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi,
terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya." Dengan gembira Ali
mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.
Tentu
saja Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak di
sangka-sangka ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh
membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan
keperluan sehari-hari.
Ali pun bergegas berangkat ke
pasar. Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir
menadahkan tangan, "Siapakah yang mau menghutangkan hartanya karena
Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal
di perjalanan." Tanpa berfikir panjang, Ali memberikan seluruh uangnya
kepada orang itu.
Pada waktu ia pulang dan Fatimah
keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan
peristiwa yang baru saja dialaminya. Fatimah, masih dalam senyum,
berkata, "Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya
saya yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta karena
Allah daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan yang menutup
pintu syurga untuk kita."
*) Baca Juga: Pintu Surga Terbuka
Suatu ketika Rasulullah SAW bersabda, ''Termasuk dari kebaikan
keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat
baginya.'' (HR Tirmidzi). Hadis ini merupakan salah satu pokok dari
beberapa ketentuan adab seorang Muslim. Maksud hadis ini sangatlah
jelas bahwa meninggalkan segala hal yang tidak mendatangkan manfaat
baik ucapan maupun perbuatan adalah termasuk tanda kesempurnaan
kualitas keislaman seorang hamba.
Perlu diketahui di sini bahwa makna meninggalkan yang tidak bermanfaat
dalam hadis tersebut bukan dipahami bermanfaat sesuai dengan hukum hawa
nafsu, namun disesuaikan dengan hukum Islam. Oleh karenanya Rasulullah
SAW menegaskan dengan kalimat min husni islamil mar'i (termasuk dari
kebaikan keislaman seseorang). Jika kualitas keislaman seorang hamba
semakin baik, maka dampak yang ditimbulkan adalah dorongan untuk
meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat juga semakin tinggi. Hal
yang tidak bermanfaat itu bisa berupa sesuatu yang diharamkan Allah SWT
dan Rasul-Nya, yang masih dalam kategori syubhat, makruh, atau pun
berlebih-lebihan.
Seiring dengan kualitas keislaman yang semakin baik, pada
gilirannya akan melahirkan rasa malu kepada Allah SWT. Dengan rasa malu
itulah seseorang akan senantiasa memperelok dirinya dengan hiasan
amalan yang baik dan meninggalkan segala perbuatan yang memalukan di
hadapan Allah SWT. Ibnu Rajab Al-Hanbali menulis, ada orang bijak yang
mengatakan, ''Malulah kamu kepada Allah SWT karena kedekatan-Nya darimu
dan takutlah kamu kepada Allah SWT karena kuasa-Nya atasmu. Jika kamu
berbicara maka ingatlah bahwa Allah SWT mendengar ucapanmu dan jika
kamu diam maka ingatlah bahwa Allah SWT melihatmu.''
Allah SWT berfirman, ''Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan
manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih
dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua malaikat
mencatat amal perbuatannya, duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk
di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di
dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS Qaaf [50]: 16-18).
Kualitas iman seorang hamba adalah sebagaimana pakaian.
Kadangkala ia dapat menjadi usang yang sebelumnya bagus. Oleh sebab itu
jauh-jauh hari kita diperintahkan untuk senantiasa mentajdid
(memperbarui) keimanan kita. Maka meninggalkan segala hal yang tidak
bermanfaat adalah langkah awal yang harus diupayakan. Selanjutnya, hal
itu dapat ditindaklanjuti dengan mengerjakan apa saja yang dapat
mendatangkan manfaat dan guna bagi diri sendiri serta sesama.
Banyak sudah keterangan dari Rasulullah SAW tentang pahala yang
berlipat bagi orang yang mengerjakan kebaikan. Namun yang perlu
dicermati di sini adalah hal itu tergantung dengan kesempurnaan
keislaman seseorang. Rasulullah SAW bersabda, ''Jika salah seorang dari
kalian telah sempurna keislamannya, maka setiap satu (amal) kebaikan
yang dikerjakannya akan dicatat sebanyak sepuluh sampai tujuh ratus
kali lipat. Dan setiap satu keburukan yang dikerjakannya akan dicatat
sebagaimana halnya hingga ia bertemu dengan Allah SWT.'' (HR Muslim).
| |