SIAPA MENULIS APA.........................

cepy's posts with tag: amal

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog EntryAmal Tanpa GunaOct 29, '06 9:39 AM
for everyone
Suatu ketika Rasulullah SAW bersabda, ''Termasuk dari kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.'' (HR Tirmidzi). Hadis ini merupakan salah satu pokok dari beberapa ketentuan adab seorang Muslim. Maksud hadis ini sangatlah jelas bahwa meninggalkan segala hal yang tidak mendatangkan manfaat baik ucapan maupun perbuatan adalah termasuk tanda kesempurnaan kualitas keislaman seorang hamba. Perlu diketahui di sini bahwa makna meninggalkan yang tidak bermanfaat dalam hadis tersebut bukan dipahami bermanfaat sesuai dengan hukum hawa nafsu, namun disesuaikan dengan hukum Islam. Oleh karenanya Rasulullah SAW menegaskan dengan kalimat min husni islamil mar'i (termasuk dari kebaikan keislaman seseorang). Jika kualitas keislaman seorang hamba semakin baik, maka dampak yang ditimbulkan adalah dorongan untuk meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat juga semakin tinggi. Hal yang tidak bermanfaat itu bisa berupa sesuatu yang diharamkan Allah SWT dan Rasul-Nya, yang masih dalam kategori syubhat, makruh, atau pun berlebih-lebihan.

Seiring dengan kualitas keislaman yang semakin baik, pada gilirannya akan melahirkan rasa malu kepada Allah SWT. Dengan rasa malu itulah seseorang akan senantiasa memperelok dirinya dengan hiasan amalan yang baik dan meninggalkan segala perbuatan yang memalukan di hadapan Allah SWT. Ibnu Rajab Al-Hanbali menulis, ada orang bijak yang mengatakan, ''Malulah kamu kepada Allah SWT karena kedekatan-Nya darimu dan takutlah kamu kepada Allah SWT karena kuasa-Nya atasmu. Jika kamu berbicara maka ingatlah bahwa Allah SWT mendengar ucapanmu dan jika kamu diam maka ingatlah bahwa Allah SWT melihatmu.''

Allah SWT berfirman, ''Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS Qaaf [50]: 16-18).

Kualitas iman seorang hamba adalah sebagaimana pakaian. Kadangkala ia dapat menjadi usang yang sebelumnya bagus. Oleh sebab itu jauh-jauh hari kita diperintahkan untuk senantiasa mentajdid (memperbarui) keimanan kita. Maka meninggalkan segala hal yang tidak bermanfaat adalah langkah awal yang harus diupayakan. Selanjutnya, hal itu dapat ditindaklanjuti dengan mengerjakan apa saja yang dapat mendatangkan manfaat dan guna bagi diri sendiri serta sesama.

Banyak sudah keterangan dari Rasulullah SAW tentang pahala yang berlipat bagi orang yang mengerjakan kebaikan. Namun yang perlu dicermati di sini adalah hal itu tergantung dengan kesempurnaan keislaman seseorang. Rasulullah SAW bersabda, ''Jika salah seorang dari kalian telah sempurna keislamannya, maka setiap satu (amal) kebaikan yang dikerjakannya akan dicatat sebanyak sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Dan setiap satu keburukan yang dikerjakannya akan dicatat sebagaimana halnya hingga ia bertemu dengan Allah SWT.'' (HR Muslim).


Blog EntryAmal yang Membuka Pintu SurgaOct 17, '06 9:00 AM
for everyone
Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih awal menjelang ashar. Fatimah binti Rasulullah menyambut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena keperluan di rumah makin besar. Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah. "Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeserpun."
Fatimah menyahut sambil tersenyum, "Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta'ala". "Terima kasih," jawab Ali. Matanya memberat lantaran isterinya begitu tawakal. Padahal keperluan dapur sudah habis sama sekali. Walau demikian Fatimah tidak menunjukan sikap kecewa atau sedih.

Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan shalat berjamaah. Sepulang dari shalat, di jalan ia dihentikan oleh seorang tua. "Maaf anak muda, betulkah engkau Ali anaknya Abu Thalib?" Ali menjawab dengan heran. "Ya betul. Ada apa, Tuan?". Orang tua itu mencari kedalam kantongnya sesuatu seraya berkata: "Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar upahnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya." Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar.


Tentu saja Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak di sangka-sangka ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari.


Ali pun bergegas berangkat ke pasar. Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, "Siapakah yang mau menghutangkan hartanya karena Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan." Tanpa berfikir panjang, Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu.


Pada waktu ia pulang dan Fatimah keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya. Fatimah, masih dalam senyum, berkata, "Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta karena Allah daripada bersifat bakhil yang di murkai-Nya, dan yang menutup pintu syurga untuk kita."

*) Baca Juga: Pintu Surga Terbuka

Blog Entry[HIKMAH] Amal tanpa GunaOct 16, '06 10:36 AM
for everyone
Suatu ketika Rasulullah SAW bersabda, ''Termasuk dari kebaikan keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.'' (HR Tirmidzi). Hadis ini merupakan salah satu pokok dari beberapa ketentuan adab seorang Muslim. Maksud hadis ini sangatlah jelas bahwa meninggalkan segala hal yang tidak mendatangkan manfaat baik ucapan maupun perbuatan adalah termasuk tanda kesempurnaan kualitas keislaman seorang hamba. Perlu diketahui di sini bahwa makna meninggalkan yang tidak bermanfaat dalam hadis tersebut bukan dipahami bermanfaat sesuai dengan hukum hawa nafsu, namun disesuaikan dengan hukum Islam. Oleh karenanya Rasulullah SAW menegaskan dengan kalimat min husni islamil mar'i (termasuk dari kebaikan keislaman seseorang). Jika kualitas keislaman seorang hamba semakin baik, maka dampak yang ditimbulkan adalah dorongan untuk meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat juga semakin tinggi. Hal yang tidak bermanfaat itu bisa berupa sesuatu yang diharamkan Allah SWT dan Rasul-Nya, yang masih dalam kategori syubhat, makruh, atau pun berlebih-lebihan.

Seiring dengan kualitas keislaman yang semakin baik, pada gilirannya akan melahirkan rasa malu kepada Allah SWT. Dengan rasa malu itulah seseorang akan senantiasa memperelok dirinya dengan hiasan amalan yang baik dan meninggalkan segala perbuatan yang memalukan di hadapan Allah SWT. Ibnu Rajab Al-Hanbali menulis, ada orang bijak yang mengatakan, ''Malulah kamu kepada Allah SWT karena kedekatan-Nya darimu dan takutlah kamu kepada Allah SWT karena kuasa-Nya atasmu. Jika kamu berbicara maka ingatlah bahwa Allah SWT mendengar ucapanmu dan jika kamu diam maka ingatlah bahwa Allah SWT melihatmu.''

Allah SWT berfirman, ''Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (yaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS Qaaf [50]: 16-18).

Kualitas iman seorang hamba adalah sebagaimana pakaian. Kadangkala ia dapat menjadi usang yang sebelumnya bagus. Oleh sebab itu jauh-jauh hari kita diperintahkan untuk senantiasa mentajdid (memperbarui) keimanan kita. Maka meninggalkan segala hal yang tidak bermanfaat adalah langkah awal yang harus diupayakan. Selanjutnya, hal itu dapat ditindaklanjuti dengan mengerjakan apa saja yang dapat mendatangkan manfaat dan guna bagi diri sendiri serta sesama.

Banyak sudah keterangan dari Rasulullah SAW tentang pahala yang berlipat bagi orang yang mengerjakan kebaikan. Namun yang perlu dicermati di sini adalah hal itu tergantung dengan kesempurnaan keislaman seseorang. Rasulullah SAW bersabda, ''Jika salah seorang dari kalian telah sempurna keislamannya, maka setiap satu (amal) kebaikan yang dikerjakannya akan dicatat sebanyak sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Dan setiap satu keburukan yang dikerjakannya akan dicatat sebagaimana halnya hingga ia bertemu dengan Allah SWT.'' (HR Muslim).


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help