SIAPA MENULIS APA.........................

cepy's posts with tag: alquran

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog EntryRahasia Huruf Al QuranNov 12, '06 1:36 PM
for everyone

Rahasia huruf yang terkandung dalam Alquran, secara tegas Rasulullah tidak pernah menjelaskan rahasia ini. Hanya saja beliau mengisyaratkan bahwa di dalam Alquran itu jika diringkas, inti Alquran itu adanya dalam surat Al Fatihah sehingga disebut ummul qur’an, … kemudian oleh ulama sufi di kembangkan menjadi suatu ilmu dalam mencari hakikat huruf atau firman ….

Mungkin cara yang ditempuh oleh para guru-guru sufi sering kali membuat bingung pengamat, sehingga mereka dianggap orang yang mengada-ada dalam beragama. Sebenarnya tidaklah demikian, … saya sendiri bukanlah penganut faham ajaran para sufi tentang rahasia huruf yang mereka kemukakan. Akan tetapi saya hanyalah orang yang mencoba mengerti methode yang di sampaikan sebagai pendekatan ilmu, … agar sang murid mudah memahami dalam arti hakikat. Bagi saya hal itu sah saja, karena di dalam memberikan pengertian arti tersembunyi sangatlah sulit, sehingga mereka mempunyai cara yang indah untuk memudahkan dalam memberikan arti rahasia ketuhanan dengan sederhana. Hal ini saya ungkapkan agar para pengamat tidaklah mencurigai ajaran para sufi ini.

Mari kita pahami rahasia huruf ini dengan pengertian kita sekarang…;.

Huruf adalah sebuah rumus yang pada mulanya tidak memiliki arti apa-apa, … kemudian tersusun menjadi sebuah kata dan susunan kata menjadi sebuah kalimat dari kalimat terkandung sebuah pengertian, … dan pengertian itu bukanlah sebuah kalimat !!

Kalau kita perhatikan sebelum ada kesepakatan manusia mengenai rumusan huruf, huruf adalah sebuah artikulasi yang timbul dari dorongan udara yang terhalang oleh pita suara pada tenggorokan, sehingga menghasilkan bunyi … kata ADUH !! AU !! bukan sebuah kalimat tetapi mengandung sebuah pengertian menunjukkan rasa sakit atau terkejut.

Seandainya rumus-rumus itu tidak ada maka huruf, kata, kalimat pun tidak ada, … akan tetapi walaupun rumus-rumus huruf tidak ada, namun hakikat pengertian dalam diri manusia tetap ada. Anda akan menemukan bahasa yang sama pada diri manusia seluruh dunia yaitu bahasa jiwa, yang tidak berhuruf, tidak bersuara, tidak bergambar. Maka benarlah jika demikian bahwa Alqur’an itu awalnya adalah bahasa wahyu (bahasa Allah) laa shautun wala harfun tidak berupa suara dan bukan berupa huruf yang di-translate kedalam bahasa manusia yaitu bahasa Arab !! Pada saat itu Rasulullah hanya mengerti dengan jelas apa yang telah turun kedalam jiwanya. Bahasa Allah itu berupa ilham / wahyu, menurut kamus bahasa Arab dalam Munzid, ilham itu berarti memasukkan pengertian kedalam jiwa orang itu dengan cepat. Dikehendaki dengan cepat, ialah dituangkan sesuatu pengetahuan-pengetahuan ke dalam jiwa dalam sekaligus dengan tidak lebih dahulu timbul fikiran dan muqadimat-muqadimatnya, … seperti binatang lebah, ketika menerima wahyu dari Allah, binatang itu tidak mengenal huruf, akan tetapi mereka mampu menangkap ajaran Allah ketika Allah menginstruksi-kan membuat rumah-rumahnya yang indah dan tersusun rapi dan cerdas !

Pengertian itu tidak terdiri dari rangkaian huruf atau suara. seperti perasaan CINTA dan Perasaan RINDU dan perasaan ini tidak ada tertulis huruf C-I-N-T-A, … walaupun anda tidak menggunakan rangkaian huruf dan suara mengapa anda memahami rindu dan cinta itu, … akhirnya anda menterjemahkan kedalam bahasa manusia menjadi aku rindu, aku cinta …. Keadaan ini sangat jelas dan tidak bisa bercampur dengan perasaan lainnya. Cinta itu sangat jelas tempatnya bahkan anda mampu menceritakan dengan bahasa yang lugas. Inilah rahasia firman Allah yang akan diungkapkan oleh ulama sufi dalam bahasa yang indah dan dimengerti oleh murid-muridnya.

Selanjutnya setelah anda mengerti akan uraian saya diatas maka marilah kita membahas maksud pertanyaan saudara mengenai rahasia huruf dalam Alqur’an.

Alquran mengandung 6666 ayat, terhimpun dalam AL FATIHAH dan Al fatihah pula terhimpun dalam BISMILLAHIRRAHMAN NIRRAHIM dan bismillahirrahman nirrahim terhimpun dalam Alif, sedangkan ALIF terhimpun dalam BA’ dan pada Ba’ terhimpun pada titiknya. Pada titik inilah awal mula semua kejadian bentuk huruf….

Hampir mudah sekarang kita memahami maksud rumusan diatas, karena kita tahu bahwa Al qur’an itu adalah firman Allah mengandung seluruh perintah dan larangannya, tata hukum dan sejarah bangsa-bangsa manusia, … pada seluruh rangkaian firman sebanyak 30 juz itu ternyata terangkum dalam ummul qur’an (Al fatihah).

Pada ummul qur’an menyimpulkan inti ajaran Alquran :
Tentang masalah ketuhanan yaitu sifat af’al dan Dzat Allah…Dialah Allah yang memiliki sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang Tidak ada yang berhak menyandang pujian kecuali Dia Dia lah tempat segalanya bergantung Karena Dia adalah penguasa alam semesta Kepada-Nya manusia memohon pertolongan dan petunjuk Demikianlah kesimpulan maksud ummul Qur’an, yaitu berserah dan menerima Allah serta bersandar kepada yang Maha menguasai alam dan diri manusia.

Berarti dari rangkaian ayat-ayat dalam Al fatihah adalah tertumpu pada huruf ba’ (dalam tata bahasa Arab sebagai ba’ sababiyah), artinya semua yang ada berasal dari huruf ba’ dengan sebab ismi (nama). Kalau di pisah bi- ismi- Allah (bismillah) semua yang ada karena sebab adanya Asma, pada Asma terdapat yang memiliki Asma yaitu Dzat, ini terangkum dalam arti titik, karena titik baru bersifat Kun (jadilah) maka terjadilah segala sesuatu. Karena kun-Nya yang dilambangkan dengan titik, merupakan asal dari segala coretan huruf berasal dari titik-titik yang beraturan menjadi garis, garis menjadi bentuk atau wujud. Sedangkan dzat tidak berupa titik karena titik masih merupakan sifat dari pada DZAT !! artinya Kun Allah bukanlah DZAT, karena Kun (kalam / wahyu) adalah sifat dari pada Dzat, bukan Dzat itu sendiri, … sehingga arti titik adalah akhir dari segala ciptaan, pada titik ini terkandung ide-ide yang akan tergores suatu bentuk dan pada wilayah inilah yang dimaksud para kaum sufi sebagai Nur Muhammad (cahaya terpuji), karena segala sesuatu akan memuja dan mengikuti kehendak Dzat, dan Dzat berkata melalui Kun-Nya, maka jadilah semuanya. Hal ini juga terurai dalam filsafat yang menunjukkan arti hidup, diurai dalam makna yang berbeda, akan tetapi mempunyai kandungan pengertian yang hampir mirip dengan uraian saya diatas.

Seorang guru besar mengajarkan kepada anaknya hal berikut :

Ambilkan aku buah pohon itu disana itu
Sang murid menjawab, Ini dia yang mulia ….
Belah dua-lah itu.
Sudah terbelah, yang mulia
Apakah yang kamu lihat ?
Saya melihat biji yang amat kecil
Belah dua-lah salah satu dari padanya
Dia sudah terbelah, yang mulia
Apakah yang kamu lihat didalamnya ?
Tidak ada sesuatu apapun, yang mulia

Sang guru berkata :

Yang halus ialah unsur hidup
Yang tak tampak olehmu
Dari yang halus itulah sebenar yang ada
Yang dari padanya sekalian ini terjadi
Itulah hakikat yang sejati,
Itulah hidup
Itulah kamu ……

Dari sebuah biji, terangkum ide-ide yang akan terjadi, … nanti akan ada sebuah akar yang menjulur, daun-daun yang hijau, batang yang kokoh serta buahnya yang ranum. Dan itu terangkum dalam sesuatu yang tak terlihat, yaitu hakikat hidup

Syekh An Nafiri menguraikan masalah huruf ini dalam kitab Raaitullah (Aku telah Melihat Allah). Beliau dalam pembahasan masalah hakikat juga menggunakan ‘huruf’ sebagai lambang segala sesuatu tercipta untuk mengungkapkan bahwa dzat itu bukanlah sebuah apa yang bisa digambarkan, sebab segala sesuatu yang masih bisa digambarkan disebut dengan huruf.

Huruf dirangkai menjadi perkataan, dari perkataan menjadi pendapatan, pendapatan bersama dengan perkataan akan menjadikan bilangan. Pendapatan disatukan dengan bilangan perkataan, dan bilangan perkataaan disatukan dengan bilangan pendapatan menimbulkan kekuatan magis, dan atas dasar hukum peringatan hal yang demikian adalah masuk dalam kekufuran. Hukum bilangan kata adalah hukum bantah-membantah (sengketa) yang satu berlawanan dengan yang lain, hal mana membawa kepada kepiluan dan kecemasan, hal yang demikian adalah kemustahilan belaka dan menjadikan ketegangan dan keguncangan.

Asma (nama-nama) dan sifat-sifat dan Af’al (perbuatan-perbuatan) adalah hijab belaka atas Dzat ilahiat. Karena sesungguhnya Dzat ilahiat itu tidak dapat menerima pembatas. Dzat ilahiyat itu berada pada tingkat ketinggian, sedangkan pelepasan (penanggalan tajrid) dan Asma dan Ilahiyat adalah urut-urutan yang menurun. Asma dengan Dzat Asmanya berdiri tanpa perbuatan, Asma dapat berbuat hanya dikarenakan Dzat Allah semata…dan sesungguhnya persoalannya berkisar bagaikan perkakas dan alat-alat dan huruf di dalam surga adalah merupakan alat-alat dan perkakas…..

Kesimpulan dari semua keterangan diatas adalah:
Para sufi ingin memudahkan dalam pencaharian Tuhannya melalui firman dan ciptaannya….
Secara berurutan terurai sebagai berikut …
Alam adalah firman Allah yang tak tertulis (ayat-ayat kauniyah), dan
Alqur’an adalah ayat-ayat kauliyah …
Semua alam semesta tergelar atas Asma Allah (bismillah)
Asma terkandung kehendak …
Kehendak terkandung dalam sifat…
Sifat terkandung dalam Af’al
Af’al terkandung pada Dzat
Semua itu adalah hijab, karena asma, sifat, af’al bukanlah dzat itu sendiri … itulah yang dimaksud para sufi bahwa segala yang tergambarkan adalah HURUF, dan merupakan hijab, … dan Dzat berada dibalik TITIK … dzat tidak bisa digambarkan oleh sesuatu, … untuk mengetahui Dzat Allah harus menyingkirkan huruf dan titik, karena itu adalah hijab !!

Demikian semoga Allah membuka hati kita amin


Blog EntryMembumikan AlquranOct 16, '06 10:53 AM
for everyone

Bulan suci Ramadhan sering pula disebut sebagai Syahr Alquran (Bulan Alquran). Hal ini karena Alquran untuk pertama kalinya diturunkan oleh Allah SWT sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi umat manusia, pada bulan Ramadhan. ''Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia.'' (QS Al-Baqarah: 185). Sebagai petunjuk hidup, Alquran tak dapat disangkal merupakan nikmat dari Allah SWT yang amat besar. Bahkan ibadah puasa, seperti dikatakan ulama Al Azhar, Abdul Halim Mahmud, diwajibkan sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat turunnya Alquran itu. Nikmat itu memang ada dua macam, yaitu nikmat fisik dan nikmat rohani (spiritual). Alquran sebagai wahyu dari Allah SWT tergolong nikmat rohani. Inilah sesungguhnya makna firman Allah SWT, ''Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menebarkan (membumikan)-nya.'' (QS Al-Dhuha: 11).

Dilihat dari fungsinya sebagai petunjuk hidup bagi manusia, maka Alquran bersifat sangat antropologis, artinya diorientasikan untuk kebaikan manusia. Perhatikan misalnya Alquran sendiri menyebut dirinya sebagai petunjuk bagi manusia (QS Al-Baqarah: 185), petunjuk bagi orang takwa (QS Al-Baqarah: 2), petunjuk dan rahmat (QS An-Nahl: 64), dan obat penawar bagi penyakit-penyakit (QS Yunus: 57).

Ini berarti Alquran harus dekat dan tidak boleh dipisahkan dari kehidupan kaum Muslim. Kata Sayyid Quthub, ''Kita harus hidup bersama Alquran dan membangun kehidupan ini sesuai dengan naungan dan bimbingan Alquran.'' Bagi Sayyid Quthub, inilah jalan satu-satunya yang akan mengantar kaum Muslim mencapai derajat 'umat terbaik' (khair ummah) seperti generasi pertama Islam yang disebut sebagai 'generasi Alquran satu-satunya' jilun Qur'aniyun farid).

Untuk maksud ini, setiap Muslim, setingkat dengan kesanggupan yang dimiliki, harus berusaha mewujudkan dan membumikan Alquran itu dalam kehidupan, setidak-tidaknya melalui empat langkah berikut. Pertama, al tilawah, yaitu membaca Alquran. Sabda Rasulullah SAW, ''Sebaik-baik ibadah umatku adalah membaca Alquran.'' Kedua, al tafahum yaitu memahami makna dan kandungan Alquran. Ketiga, al tadabbur yaitu mendalami kandungan Alquran sehingga mendapat konsep-konsep berguna bagi kehidupan (QS Shad: 29). Keempat, al takhalluq bi Alquran, atau menjadikan Alquran sebagai akhlak, sehingga benar-benar mewujud dalam realitas kehidupan.

Dalam tahap-tahap tersebut tergambar bahwa studi Alquran haruslah berujung pada penubuhan Alquran (tajsim Alquran). Dalam bahasa Sayyid Quthub, studi Alquran harus dilakukan dengan semangat untuk membumikannya, bukan sekadar untuk teoretisasi atau pengembangan wacana belaka. Hanya dengan semangat demikian, tegas Quthub, Alquran dapat memberikan berkah dan mengeluarkan simpanan dan kekayaannya yang amat luas berupa ilmu dan hikmah. Lain tidak! Wallahu a'lam.


Blog EntryManusia Yang Berpaling Dari Al QuranOct 14, '06 9:13 AM
for everyone

Dalam mengarungi hidup dan kehidupan di dunia ini yang singkat bagaikan perjalanan musafir yang sekedar singgah sebentar untuk minum air agar terlepas dari dahaga sesungguhnya Allah SWT telah banyak memberikan tuntunan.
Manusia dalam mensikapi tuntunan Allah, bagaikan seorang pengguna jasa jalan raya. Terkadang, ada yang disiplin dapat membaca, memanfaatkan rambu-rambu jalan yang terpasang rapi, jelas dan kokoh. Tapi, ada juga manusia pengguna fasilitas jalan yang cuek, bahkan cenderung menyengaja melanggarnya.

Allah SWT dalam Al Qur'an Surat Thaha ayat 125-127 sedemikian jelas menggambarkan kondisi manusia yang berpaling dari Al Qur'an:

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: Wahai Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah orang yang melihat. Allah berfirman: Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan. Dan demikian Kami membalas orang-orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.

Gambaran kehidupan yang sempit, tentu menakutkan, sebab, hampir rata-rata manusia berharap memperoleh hidup yang luas lagi penuh kemudahan. Yang perlu diketahui, mengapa keadaan demikian, apa sebabnya. Al Qur’an memberi gambaran, misalnya dalam surat Al Lail ayat 8-10.

Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup (tidak memerlukan pertolongan Allah serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak kami akan menyiapkan baginya (jalan kehidupan) yang sukar.

Nampak bahwa kesempitan, kesulitan dan kepahitan hidup itu bukan datang dengan tiba-tiba. Bahkan bukan karena kesewenang-wenangan Allah. Melainkan, itu diperoleh buah dari amal manusia sendiri yang bakhil, tidak butuh pertolongan Allah dan mendustakan pahala terbaik-Nya.

Di antara implikasi dari kesempitan hidup adalah ketika seseorang menghadapi cobaan, dia amat mudah berkeluh-kesah dan berputus asa. Allah menggambarkannya dalam surat Al Isra ayat 83.

Dan ketika dia (manusia) ditimpa keburukan, adalah dia (bersikap) putus asa.

Manusia dengan tipe mudah berputus asa, mempunyai kecenderungan untuk mengambil konklusi tergesa-gesa, misalnya, bunuh diri, sebab dia merasa seakan hidupnya sudah tidak ada harapan. Dia melupakan adanya Allah yang Maha Penolong, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Gejala hidup dengan mengambil jalan pintas meskipun dengan melanggar aturan Allah termasuk bagian dari hidup yang sempit.

Selanjutnya, implikasi yang lebih fatal adalah hidup berpaling dari tuntunan Allah (Al Qur'an) sebab Allah memberi imbalan bagi pelakunya dikumpulkan di hari Qiyamat dalam kondisi buta dan tiap berhadapan dengan siksa-Nya yang berat dan abadi.

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help