SIAPA MENULIS APA.........................

cepy's posts with tag: ahlak

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog EntryKalau Ditanya “Siapa?”, Jawablah Yang JelasJun 12, '07 7:31 PM
for everyone
Seringsekali kita temui dalam pergaulan sehari-hari, entah misalnya dimana ketika kita menerima telepon dan bertanya “dari siapa?” tak jarang jawaban yang kita terima adalah, “dari saya” atau “temannya si fulan.” Begitu pula saat pintu rumah kita di ketuk, ketika kita bertanya, “Siapa?” tak jarang pula yang kita dengar jawabannya adalah “Saya”.

Lalu bagaimanakah adab yang sebenarnya saat kita di tanya seperti itu, jawaban bagaimana kah yang semestinya. Hal serupa sebenarnya sama dengan apa yang di riwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Muslim dari Jabir, ia berkata, “Saya mendatangi Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam untuk melunasi hutang ayahku, saya mengetuk pintu, dan beliau bersabda, “Siapa?” Saya menjawab, “Saya.” Beliau kembali bersabda,” Saya,saya.” Beliau seakan-akan membenci hal tersebut.” (Shahih Bukhari dan Muslim)

Dalam Riwayat Abu daud Ath Thayaalisi, disebutkan, “Rasulullah membenci yang demikian,” dengan menyebutkan lafazh jazam (kepastian).” (Fathul Bari)

Pelajaran dalam Hadist ini yaitu Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam membenci jawaban Jabir yang berkata, “Saya.” Dan menampakan kebenciannya beliau dengan bersabda, “Saya,saya.”

Al Allamah Al Khathabi menjelaskan sebab kebencian Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam atas jawaban Jabir, (“Saya”) karena ucapan itu bukan jawaban dan tidak memberikan pengetahuan bagi yang menggunakannya. Jawaban yang benar adalah “Saya Jabir” Untuk memperkenalkan nama yang di pertanyakan tersebut.” (ibid)

Karena Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam tidak menyangka kalau kesalahan itu keluar dari seorang seperti Jabir maka beliau mengungkapkan kebenciannya. Wallahu a’lam.




*Nabi Muhammad Sang Guru Yang Hebat


Blog EntryMemarahi Pertanyaan yang Bertele-TeleJun 7, '07 8:10 PM
for everyone
Rasulullah Shalallahu Alahi wa Sallam selalu bersedia menjawab pertanyaan, memuji pertanyaan yang baik dan menjawabnya lebih dari apa yang ditanyakan. Namun demikian, beliau tidak menyukai pertanyaan yang bertele-tele dan tidak penting. Sebangaimana beliau juga membenci pertanyaan yang mendatangkan kesulitan bagi umat. Beliau marah dengan pertanyaan semacam ini. Di antara dalilnya adalah:

1. Marah dengan pertanyaan unta yang hilang

Diriwayatkan oleh Imam Al Bukhari dan Muslim dari Zaid bin Khalid Al Juhani, bahwasanya Rasulullah Shalallahu Alahi wa Sallam ditanya oleh seorang laki-laki tentang luqathah (barang temuan). Beliau bersabda,”Umumkan tali(yang mengikatnya), atau beliau berkata (umumkan) tempatnya dan umumkan selama setahun. Setelah itu kamu bisa mempergunakannya. Bila pemiliknya datang, maka berikanlah ia kepadanya.”

Seorang bertanya, “Bagaimana dengan unta yang hilang?” Rasulullah Shalallahu Alahi wa Sallam marah, dan mukanya memerah dan bersabda, “Apa kepentingan anda dengannya? Ia memiliki persediaan air (di dalam perutnya yang cukup) dan kakinya. Ia bisa mendatangi air (sendiri) dan memakan daun-daunan. Biarkanlah ia hingga ditemukan oleh pemiliknya.”

Ia bertanya,”Bagaimana dengan kambing yang hilang?” Rasulullah menjawab,”Untukmu, untuk saudaramu atau untuk harimau.”

Faedah dalam Hadist tersebut adalah Rasulullah Shalallahu Alahi wa Sallam marah terhadap pertanyaan seputar unta yang hilang. Imam Al Khatabi berkata, “Beliau marah karena kurangnya pengetahuan si penanya dan buruknya pemahamannya. Sebab dia tidak memperhatikan apa yang sedang dibicarakan. Dia mengkiaskan sesuatu tidak pada tempatnya.”(Umdatul Qari)

2. Marah karena banyak pertanyaan tentang sesuatu yang tidak Beliau senangi

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Abu Musa, ia berkata, “rasulullah Shalallahu Alahi wa Sallam pernah ditanya sesuatu yang tidak beliau sukai. Ketika hal tersebut sering ditanyakan, beliau marah dan bersabda kepada para sahabat,”Bertanyalah kepadaku tentang apa yang kalian inginkan!”
Seseorang (Abdullah bin Khudzaifah) lalu bertanya,”Siapa ayah saya?” rasulullah menjawab,”Ayahmu Khudzaifah.”

Yang lain (Sa’id bin Salim budak Syaibah bin Rabi’ah) bertanya,”Siapa ayahku wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab,”Ayahmu Salim bekas budak Syaibah.”

Ketika Umar melihat kemarahan yang ada diwajah Rasulullah Shalallahu Alahi wa Sallam, ia berkata, “Ya rasulullah, kami bertaubat kepada Allah.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Diriwayat lain disebutkan,”Umar tersungkur diatas kedua lututnya dan berkata,”Kami ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi.”

Al Hafizh Ibnu Hajar dalam penjelasannya berkata,” Penulis membatasi marah dalam memberi nasihat dan pengajaran, bukan dalam memberi hukum. Karena seorang hakim diperintahkan untuk tidak mengadili dalam keadaan marah. Perbedaannya, karena memberikan nasihat bisa dengan penampilan marah, bila kondisi menuntut demikian. Juga ia dalam kapasitas sebagai pemberi peringatan. Begitu juga seorang pengajar, bila mengingkari sesuatu pada anak didiknya, karena pemahamannya yang salah dan lainnya. Bisa jadi yang demikian itu lebih cepat diterima darinya.”(Fathul Bari)

3. Marah dengan pertanyaan  setelah ia dilarang

Diriwayatkan oleh Imam Al hakim dari marstad, ia berkata,”Saya bertanya kepada Abu Dzar,”Apakah anda telah mendengar dari Rasulullahu tentang Lailatul Qadr?” ia berkata ,
“Ya.”

Saya(Abu Dzar) bertanya,”Wahai Rasulullah! Beritahukan kepadaku apakah Lailatul Qadr terjadi di Bulan Ramadhan atau diluar Ramadhan?”

Rasulullah Shalallahu Alahi wa Sallam bersabda,”Di Bulan ramadhan.”

Saya bertanya,”Ya rasulullah! Apakah ia terjadi selama ada para Nabi? Bila para Nabi meninggal,maka ia tidak akan terjadi, atau ia ada hingga hari kiamat?” Rasulullah bersabda,”Ia ada hingga hari Kiamat.”

Saya bertanya,”Ya Rasulullah Shalallahu Alahi wa Sallam, beritahukan kami di bulan Ramadhan kapan?”

Beliau bersabda,”Disepuluh malam terakhir. Jangan tanyakan saya tentang sesuatu setelah itu.”

Saya berkata, “Saya bersumpah atas hak saya kepadamu, di sepuluh malam yang mana?”

Rasulullah Shalallahu Alahi wa Sallam sangat marah kepadaku, yang tidak pernah marah seperti itu sebelum dan sesudahnya. Beliau Berasabda,”Seandainya Allah berkenan untuk memperlihatkannya kepada kalian. Carilah ia di tujuh terakhir, jangan tanyakan saya tentang setelah itu.” (HR.Hakim)



Insya Allah Bersambung...

*Rasulullah Sang Guru Yang Hebat



Blog EntryHati-Hati, Jangan Meremehkan Sunah!!!Jun 1, '07 8:44 PM
for everyone

Mungkin, ikhwah yang mengamalkan sunnah dan menampakkannya di tengah-tengah masyarakat, semisal memelihara jenggot, memakai celana ngatung, atau memakai jubah/gamis mendapat perlakuan berbeda baik berupa ejekan maupun pandangan heran oleh sebagian masyarakat sekitar. Jangan ragu, tetaplah tegar di atas sunnah! Namun, kepada mereka yang mengejek, meremehkan, merendahkan, dan mengolok-olok sunnah maka hati-hatilah akan laknat Allah baik di dunia maupun di akhirat kelak. Adapun di dunia, kadang Allah perlihatkan laknat/adzabnya secara langsung. Ini merupakan pelajaran bagi kita semua.  


Kisah Mengolok-olok Siwak

Sebagaimana di dalam Al Bidayah wan Nihaayah karangan Ibnu Katsir, kejadian-kejadian tahun 665, ketika beliau berkata:

Ibnu Kholkaan berkisah menukil tulisan Asy Syaikh Qathbuddin al Yuunaani, dia berkata : Telah sampai kepada kami bahwasanya seorang laki-laki yang dipanggil Abu Salamah dari daerah Bushro, dia itu suka berkelakar dan berbicara tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Disebutkan di sisinya siwak dan keutamaan-keutamaannya, maka dia berkata : “Demi Allah, aku tidak akan bersiwak kecuali di dubur!” Lalu, dia mengambil sebuah siwak, memasukkannya ke duburnya kemudian mengeluarkannya.

Berkata Qathbuddin: Setelah melakukan perbuatan tersebut, ia tinggal selama sembilan bulan dalam keadaan mengeluh sakit perut dan dubur. Ia (Qathbuddin) berkata: Lalu, dia melahirkan anak seperti tikus mondok yang pendek dan besar, memilki empat kaki, kepalanya seperti kepala ikan. (Hewan itu memiliki empat taring yang tampak menonjol, panjang ekornya satu jengkal empat jari) dan memiliki dubur seperti dubur kelinci. Tatkala sudah dilahirkan, hewan itu menjerit tiga kali, lalu bangkitlah anak perempuan laki-laki itu dan memecahkan kepalanya sehingga matilah hewan tersebut.

Laki-laki itu hidup setelah melahirkan selama dua hari dan mati pada hari yang ketiga. Dan dia (sebelum) mati berkata: “Hewan ini telah membunuhku dan memotong-motong ususku”. Sungguh kejadian ini telah disaksikan oleh sekelompok penduduk di daerah tersebut dan para khatib tempat itu. Diantara mereka ada yang melihat hewan itu hidup-hidup dan diantaranya ada yang melihatnya setelah mati.

Kisah Orang yang Allah Subhaanahu wa Ta’ala Ubah Kepalanya Menjadi Kepala Keledai

Sebagaimana di ‘Al-Qaulul Mubiin fi Akhthaa’il Mushallin halaman 252 sebagai berikut:

Telah berkata Ibnu Hajar dari sebagian ahli hadits, bahwasanya dia pergi ke Dimasyq untuk mengambil hadits dari seorang syaikh yang terkenal di sana. Syaikh itu pun membacakan kepadanya sejumlah hadits, akan tetapi beliau membuat tabir antara beliau dengan si murid dan dia tidak melihat wajah si Syaikh tersebut. Tatkala telah lama dia belajar dan Syaikhnya melihat semangatnya terhadap hadits maka Syaikh tersebut menyingkapkan tabir. Sehingga si murid tersebut melihat wajah beliau berupa wajah keledai.

Maka beliau berkata kepadanya: “Hati-hati wahai anakku, jangan sampai kamu mendahului imam! Sesungguhnya aku tatkala melewati hadits tersebut Yakni hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Al Imam Bukhori dan Al Imam Muslim:

Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam (mengangkat kepalanya) akan dirubah oleh Allah kepalanya menjadi kepala keledai ?

aku menganggap tidak mungkin terjadi, lalu aku mendahului imam, lalu jadilah wajahku seperti yang kau lihat!”

Aku berkata: Ayat, hadits, dan kisah dalam masalah ini banyak sekali.




Al Qoulul Mufid, Penjelasan tentang Tauhid


Blog EntryMemuliakan Rumah-Rumah AllahJun 1, '07 8:32 PM
for everyone

Sebidang tanah di bumi ini yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah rumah-rumah-Nya (masjid) yang di dalamnya ditegakkan ibadah kepada-Nya dan Dia di Esakan ..

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang ” .( An Nur : 36) .

Masjid dibangun dengan tujuan digunakan sebagai tempat berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sholat, menyampaikan ilmu agama, mengadakan pembicaraan yang baik dan yang sejenisnya.

Oleh karena itu, seyogyanya bagi setiap muslim untuk memuliakan rumah-rumah Allah dengan menjaga adab-adab ketika hendak memasukinya dan ketika di dalamnya, di antara adab hendak masuk masjid dan ketika berada di dalamnya sebagaimana dituntunkan didalam agama kita adalah :

1. Membersihkan mulutnya dari bau yang tidak enak ketika hendak mendatangi masjid .
Disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Jabir bin Abdillah, dari Nabi
Shalallahu ‘alahi wa sallam beliau bersabda:

” Siapa yang makan bawang merah, bawang putih atau bawang bakung (jengkol, petai dan selainnya), maka sungguh janganlah dia mendekat masjid kami, karena malaikat terganggu dengan apa manusia terganggu dengannya”.

2. Membaca sholawat atas nabi dan berdoa ketika hendak masuk ketika telah sampai pada pintunya.
Disebutkan dalam Sunan Abu Dawud dan dishahihkan Al Imam Ibnu Hibban dari sahabat Abu Humaid atau Abu Usaid Al Anshory, berkata: Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda :

Jika seseorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia membaca sholawat atas nabinya, kemudian hendaknya dia berkata :

“Ya Allah ya Tuhan kami, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untukku ” .

Kemudian ketika keluar membaca :

“Ya Allah ya Tuhan kami , sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dari keutamaan -Mu”.
Atau membaca doa-doa yang terdapat di dalam hadits-hadits shahih yang lainnya .

3. Ketika masuk mendahulukan kaki kanan, di karenakan bagian kanan itu untuk sesuatu yang mulia , sedangkan ketika keluar melangkahkan kaki kiri, dalam rangka memuliakan yang kanan.

Al Imam Bukhari dan Muslim telah mengeluarkan di dalam ” Shahih Keduanya ” , dari Aisyah rodhiyallahu anha, dia berkata :

Bahwasanya Nabi suka mendahulukan bagian yang kanan ketika memakai sandal, bersisir, bersuci dan dalam semua urusannya (yang mulia) ” .

4. Menunaikan hak masjid yaitu melakukan sholat dua rakaat sebelum duduk (sholat tahiyatul masjid) kapan pun seseorang masuk dan walaupun sudah terlanjur duduk sebelum sholat.
Disebutkan di dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Qatadah bin Rib’i Al-Anshory, dia berkata: Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam bersabda :

“Jika seseorang dari kalian masuk masjid maka janganlah dia duduk (di dalamnya) sehingga dia melakukan sholat dua rakaat “.

Al Imam Ibnu Hibban telah meriwayatkannya di dalam “Shahihnya” dari sahabat Abu Dzar bahwa dirinya telah masuk masjid (dan dia duduk sebelum sholat), maka Nabi Shalallahu ‘alahi wa sallam berkata kepadanya :’Apakah kamu telah melakukan sholat dua rakaat ?’, dia berkata : belum , maka beliau katakan :‘berdirilah kamu dan sholatlah dua rakaat ‘” .

5. Tidak mengumumkan barang yang hilang di dalamnya .
Al-Imam Ahmad, Muslim dan selain dari keduanya telah meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

“Barang Siapa yang mendengar seseorang sedang mencari barang yang hilang di dalam masjid , maka hendaklah dia berkata : Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu, sesungguhnya masjid-masjid itu tidaklah dibangun untuk demikian ini ” .

6. Tidak melakukan jual beli di dalamnya .
Disebutkan di dalam hadits yang telah diriwayatkan Al Imam Tirmidzi, Nasai dan selain keduanya, juga dishahihkan oleh Al Imam Ibnu Khuzaimah dan Hakim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Nabi Shalallahu ‘alahi wa sallam
bersabda :

“Jika kalian melihat seseorang menjual atau membeli sesuatu di dalam masjid, maka katakanlah Semoga Allah tidak memberikan keuntungan pada perdaganganmu… ” .

Jual beli secara syar’i adalah tukar menukar barang dengan suka rela di atas sisi yang disyariatkan, maka jual beli itu ada empat macam:
a. Barang dijual (ditukar) dengan barang .
b. Barang dijual dengan mata uang .
c. Mata uang dijual dengan mata uang (tukar menukar uang) baik yang sejenis seperti rupiah dengan rupiah atau yang tidak sejenis seperti rupiah dengan dolar.
d. Manfaat dengan harta ( jual jasa) .

Segala sesuatu yang tergolong dalam makna jual beli secara syar’i dan dilakukan di dalam masjid maka dia telah melakukan pelanggaran di dalamnya sehingga berhak didoakan kerugian sebagaimana yang ditunjukkan di dalam hadits ini , dan sebagian ulama memakruhkan memberikan pelajaran untuk anak-anak (juga dewasa) di dalam masjid yang ditetapkan upah di dalamnya karena tergolong dalam jual beli .

7. Tidak melakukan pekerjaan yang manfaatnya kembali kepada pribadi seseorang, sedangkan jika manfaatnya kembali kepada keumuman agama kaum muslimin seperti berlatih menggunakan pedang, mempersiapkan alat-alat perang untuk berjihad dan yang lainnya yang tidak mengandung makna penghinaan bagi masjid, maka tidak mengapa .

Di dalam “Shahih Bukhari dan Muslim” dari Aisyah rodhiyallahu anha , dia berkata :
“Sungguh aku melihat Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam pada suatu hari di pintu kamarku, sedangkan kaum muslimin Habasyah sedang bermain-main tombak (berlatihmenggunakannya) di dalam masjid , sementara Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam menutupi aku dengan pakaiannya , maka aku melihat permainan mereka”
.
Di dalam salah satu lafadznya Umar masuk lalu merendahkan badannya untuk mengambil kerikil, maka kerikil itu dilemparkannya kepada mereka, kemudian beliau Shalallahu ‘alahi wa sallam berkata : “Biarkan wahai Umar ” .

8. Tidak mengeraskan suara ketika berbicara
Di dalam ” Shahih Bukhari ” dari sahabat Sa’ib bin Yazid radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Aku pernah berdiri di dalam masjid , maka ada seseorang yang telah melempar kerikil kepadaku, lalu aku perhatikan orangnya ternyata dia adalah Umar bin Khathab, maka dia berkata: “datangilah dua orang itu kemudian bawalah mereka kepadaku”, lalu aku mendatanginya dengan dua orang itu , dan dia berkata: “Siapa kalian ini atau dari mana kalian berdua ini ?”, maka keduanya berkata :dari Thaif, lalu Dia (Umar) berkata : “Kalau kalian berdua dari penduduk negeri (Madinah) ini tentu aku cambuk kalian, karena kalian telah mengeraskan suara di masjid Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam” .

Sebagian ulama membolehkan mengeraskan suara dalam pembicaraan ilmu (agama) dan selainnya yang dibutuhkan kaum muslimin karena ia adalah tempat berkumpulnya mereka yang terkadang harus melakukannya .

9. Tidak membaca syair-syair yang mengandung makna syirik dan mungkar, sedangkan jika mengandung makna yang benar seperti makna tauhid dan ketaatan tidaklah terlarang selama tidak menjadikan orang lain yang ada di masjid tersibukkan dengannya dari ibadahnya.
Terdapat di dalam “Shahih Bukhari dan Muslim”, dari sahabat Abu Hurairah bahwasanya Umar berjalan melewati Hasan bin Tsabit sedang mendendangkan syair-syair di dalam masjid , maka Umar mengarahkan perhatian kepadanya dengan tidak suka , maka Hasan berkata :“Sungguh aku pernah mendendangkan syair (di dalam masjid) dan di dalamnya ada seseorang yang labih baik dari engkau (yaitu Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam)”

10. Tidak duduk melingkar di dalamnya sebelum ditegakkannya sholat jumat walaupun untuk mempelajari ilmu (agama), disebabkan akan memutus shaf-shaf kaum muslimin dan di samping itu mereka diperintahkan untuk berkumpul lebih awal pada hari jum’at dan merapatkan shaf yang di depan dan seterusnya .

Terdapat di dalam hadits yang diriwayatkan Al Imam Ibnu Khuzaimah di dalam “Shahihnya” , dan Tirmidzi di dalam “Sunannya” dan dia menghasankannya dari Amer bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dari Rasulullah Shalallahu ‘alahi wa sallam :

“…. Sesungguhnya beliau melarang manusia duduk melingkar (di dalam masjid) pada hari jum’at sebelum sholat (jum’at) ” .

11. Tidur di dalam masjid dibolehkan baik laki-laki maupun perempuan , terlebih lagi bagi para musafir dan orang yang tidak memiliki rumah atau karena ada hajat .
Terdapat di dalam “Shahih Bukhari” dan selainnya bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu tidur di masjid Nabi Shalallahu ‘alahi wa sallam di masa beliau ketika dirinya masih muda sebelum berkeluarga. Al Imam Bukhari menyebutkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata : Sungguh aku melihat tujuh puluh ahli suffah – yaitu para sahabat yang fakir - (tidur di masjid Nabi), tidak ada dari mereka yang memiliki rida (pakaian bagian atas badan) , sebaliknya di antara mereka ada yang memiliki kain penutup badan saja , atau satu helai pakaian saja, kain itu mereka ikatkan pada leher-leher mereka, maka di antara pakaian itu ada yang naik sampai pertengahan kedua betisnya, dan di antaranya ada yang naik sampai kedua mata kakinya , lalu dia rapatkan dengan tangannya karena tidak suka auratnya terbuka .

Wahai saudaraku muslimin hiasilah diri engkau dengan adab dan akhlak yang mulia di manapun berada terlebih lagi ketika di dalam masjid, pakailah masjid itu hanya sebagai tempat dzikir (beribadah) kepada Allah, janganlah dijadikan sebagai tempat bermain, berdagang, tempat duduk-duduk, dan sebagai jalan tanpa ada sebab, janganlah engkau berikan bagian (ibadah) itu untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalamnya .

Dia Yang Maha Suci berfirman :

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah ” . (QS Al-Jin :18).

Seseorang yang menegakkan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya niscaya dia meraih keberuntungan di dunia dan di akhirat kelak .

“Dan barangsiapa menta`ati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar”.(QS Al-Ahzab:71).

َ“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya”.(QS Al Bayyinah: 7-8).

Wallahu a’lam Bish-Shawab…





*darussalaf.org



© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help