SIAPA MENULIS APA.........................

cepy's posts with tag: aa gym

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog Entry[TAUSIYAH] Aa Gym; Belajar Dari Wajah Oct 18, '06 10:29 AM
for everyone
Subhanallah, walaupun kulitnya tidak putih, tetapi ketika memandang wajahnya... sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung kalbu yang paling dalam. Menarik sekali jika kita terus-menerus belajar tentang fenomena apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini. Salah satunya adalah wajah. Wajah? Ya, wajah. Wajah bukan hanya masalah bentuk, yang utama adalah pancaran yang tersemburat dari si pemilik wajah tersebut. Ketika pagi menyingsing misalnya, tekadkan dalam diri, ''Saya ingin tahu wajah yang paling menenteramkan hati itu seperti apa? Wajah yang paling menggelisahkan itu bagaimana?'' Karena, pasti hari ini kita akan banyak bertemu dengan wajah orang per orang.

Saat berjumpa dengan orang, kita bisa belajar ilmu tentang wajah, karena setiap wajah memberikan dampak yang berbeda-beda kepada kita. Ada yang menenteramkan, ada yang menyejukkan, ada yang menggelikan, ada yang menggelisahkan, dan ada pula yang menakutkan. Menakutkan? Mengapa? Apakah karena bentuk hidungnya? Tentu saja tidak! Sebab ada yang hidungnya mungil, tapi menenteramkan. Ada yang sorot matanya tajam menghunjam, tapi menyejukkan. Ada yang kulitnya hitam, tapi penuh wibawa.

Aa pernah berjumpa dengan seorang ulama dari Afrika di Masjidil Haram. Subhanallah, walaupun kulitnya tidak putih, tidak kuning, tetapi ketika memandang wajahnya... sejuk sekali! Senyumnya begitu tulus meresap ke relung kalbu yang paling dalam. Sungguh bagai disiram air menyegarkan pada siang hari.

Kalau hari ini kita berhasil menemukan wajah seseorang yang menenteramkan, maka cari tahu mengapa dia bisa memiliki wajah seperti itu. Tentu kita akan menaruh hormat kepada dia. Betapa senyumannya yang tulus, pancaran wajahnya tampak sekali ia ingin membahagiakan siapa pun yang menatapnya. Sebaliknya, bagaimana kalau kita menatap raut wajah yang berlawanan? Wajahnya bengis, struktur katanya ketus, sorot matanya kejam, senyumannya sinis, dan sikapnya pun tidak ramah. Ini pun perlu kita pelajari.

Ambillah kelebihan dari wajah yang menenteramkan dan menyejukkan tadi menjadi bagian dari wajah kita, dan buang jauh-jauh raut wajah yang tidak menenteramkan. Tidak ada salahnya jika kita evalusi diri di depan cermin. Tanyalah, raut seperti apakah yang ada di wajah ini?

Memang, ada di antara hamba-hamba Allah yang bibirnya didesain agak berat ke bawah. Kadang-kadang menyangkanya dia kurang senyum, sinis, atau kurang ramah. Subhanallah, bentuk seperti ini pun karunia Allah yang patut disyukuri dan bisa jadi ladang amal bagi siapa pun yang memilikinya untuk berusaha senyum ramah lebih maksimal lagi.

Bagi wajah yang untuk seulas senyum itu sudah ada, maka tinggal meningkatkan lagi kualitas senyum tersebut, agar lebih ikhlas lagi. Karena senyum bukan sekadar mengangkat ujung bibir saja, tapi yang utama adalah keinginan membahagiakan orang lain. Rasulullah SAW memberikan perhatian yang luar biasa kepada setiap orang yang ditemuinya sehingga orang itu merasa puas. Diriwayatkan, bila ada orang yang menyapanya, Rasul menganggap orang tersebut adalah orang yang paling utama, sesuai kadar kemampuannya.

Walhasil, ketika Rasul berbincang dengan siapa pun, maka orang yang diajak berbincang itu senantiasa menjadi curahan perhatian. Tak heran bila cara memandang dan bersikap, ternyata menjadi atribut kemuliaan yang ia contohkan. Hal itu berpengaruh besar terhadap sikap dan perasaan orang yang diajak bicara.

Kemuramdurjaan, ketidakenakan, dan kegelisahan itu muncul karena kita belum menganggap orang yang ada dihadapan kita sebagai yang paling utama. Makanya, kita sering melihat seseorang itu hanya separuh mata, berbicara hanya separuh perhatian. Misalnya, ketika ada seseorang yang datang menghampiri, kita sapa orang itu sambil baca koran. Padahal, kalau kita sudah tidak mengutamakan orang lain, maka curahan kata-kata, cara memandang, cara bersikap, itu tidak akan punya daya sentuh dan daya pancar yang kuat.

Karena itu, marilah kita berlatih diri meneliti wajah. Tentu bukan untuk meremehkan, tapi mengambil teladan wajah yang baik dan menghindari yang tidak baik. Lalu praktikkan dalam perilaku sehari-hari. Selain itu, belajarlah untuk mengutamakan orang lain, walaupun hanya sesaat saja. Wallahu a'lam.

(K.H. Abdullah Gymnastiar)


Blog Entry[TAUSIYAH] Aa Gym; Rindu Menebar KebaikanOct 16, '06 11:18 AM
for everyone
Alangkah indahnya hidup ini sekiranya kita ditakdirkan memiliki kondisi hati yang membuat kita selalu merasakan nikmat dan bahagia setiap kali melihat kebaikan tersebar di muka bumi ini. Allah 'Azza wa Jalla berfirman, ''Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah.'' (QS Ali 'Imran: 110). Apa artinya? Artinya, umat yang terbaik adalah umat yang memiliki kesanggupan untuk selalu menata, menjaga, merawat, dan mewaspadai kalbunya dengan baik, sehingga selalu bersih, lapang, dan selamat. Kalbu yang selamat, tentu akan membuahkan kepekaan terhadap kebaikan dan berbuat yang terbaik. Kepekaan akan membuat dunia ini berubah menjadi samudera ilmu yang teramat luas karena cahaya ilmu yang telah dikaruniakan Allah. Apa yang dilihat, dirasa, dan didengar dari aneka kejadian di bumi ini sudah seharusnya kita sikapi dengan penuh rasa syukur. Karena pada hakikatnya pada setiap kejadian itu pastilah Allah menebarkan ilmu hikmah yang akan membuat kita semakin arif dan bijak, juga semakin memiliki kesungguhan mendekat kepada-Nya.

Sekiranya kita sudah memiliki kepekaan, niscaya kita akan berjiwa besar. Dengan jiwa besar yang bersimbah keimanan dan makrifat yang baik kepada Allah 'Azza wa Jalla inilah yang akan membuat kita dapat merasakan nikmat dan manisnya menyaksikan kebaikan tersebar.

Namun dalam kenyataan, tidak semua kita memiliki kepekaan seperti ini. Tidak jarang, ketika mendengar kumandang adzan di masjid, serta-merta kita merasa terganggu karena sedang asyik dengan pekerjaan atau aktivitas duniawi. Ketika melihat sampah berserakan atau duri di jalanan, adakah hati kita terketuk untuk mengambil dan menyingkirkannya? Ataukah kita tidak menghiraukannya? Ketika kita melihat seorang kakek sedang berjuang menyeberang jalan, terketukkah hati kita untuk membantu menyeberangkannya?

Subhanallah, betapa bahagianya ketika di dunia mendapatkan kecukupan rezeki, dan di akhirat nanti memperoleh bukti akan jaminan Allah SWT berupa jannatun na'im disertai keridhaan-Nya. Tidakkah seharusnya kita berbahagia dengan kebaikan yang tersebar luas di penjuru bumi, sehingga kita pun mendapatkan karunia, pahala, dan ridha-Nya?

Sekiranya kita belum mampu melakukan hal seperti itu, maka semestinya hati kita tidak dengki dengan orang yang gemar menebar kebaikan. Sebaliknya, kita harus turut senang dan bersyukur, karena masih ada orang yang ikhlas ber-amar ma'ruf nahi munkar. Insya Allah, bila kita juga merasakan bahagia dengan tersebarnya kebaikan, kita pun mendapat berkah dan pahala dari kebaikan tersebut. Allah Maha Menyaksikan segala lintasan hati kita. Sekiranya bumi ini dihuni oleh lebih banyak lagi orang yang selalu mendekatkan diri kepada Allah, niscaya dunia ini akan terasa semakin lapang, indah, dan mengesankan. Orang-orang tiada lagi mencari kemuliaan dari banyaknya harta benda, tingginya pangkat dan jabatan, melainkan saling berlomba memburu ridha dan cinta Allah.

(KH Abdullah Gymnastiar )



Saudaraku, ada kisah menarik dari Anas bin Malik. Suatu ketika ia berjalan dengan Rasulullah SAW. Ketika itu, datanglah seorang Arab badui dari arah belakang. Dengan serta-merta ia menarik jubah najraani yang dikenakan Rasulullah SAW. Anas berkata, ''Aku memandang leher Rasulullah dan melihat bahwa jubah itu telah meninggalkan bekas merah di sana karena kerasnya tarikan. Orang badui itu kemudian berkata, 'Wahai Muhammad, beri aku sebagian dari kekayaan Allah yang ada di tanganmu'. Rasul kemudian menoleh kepadanya, dan tersenyum, lalu memerintahkan agar orang itu diberi uang.''

Kisah ini menggambarkan betapa mulianya akhlak Rasulullah SAW. Beliau tidak pernah membalas keburukan orang dengan keburukan lagi. Saat dihina, beliau tidak marah atau sakit hati. Beliau justru mendoakan kebaikan. Mengapa Rasulullah SAW mampu tenang dan bijak menghadapi gangguan orang lain? Jawabnya, Rasulullah SAW memiliki kelapangan dada dan kejernihan pikiran.

Ternyata, yang membuat hidup kita tidak bahagia adalah diri kita. Penyikapan yang buruk terhadap suatu kejadian adalah sumber penderitaan. Mirip orang yang sariawan makan keripik pedas. Ia menangis, marah, dan uring-uringan. Yang membuat ia menderita bukan keripiknya, melainkan lidahnya yang berpenyakit. Bagi orang yang tidak sariawan, keripik tersebut nikmat dan renyah.

Saudaraku, ada banyak hal yang membuat hidup kita tidak nyaman. Salah satunya adalah kegemaran menyimpan ''memori-memori'' buruk. Otak bisa diibaratkan wadah penyimpanan yang akan kotor ketika kita mengisinya dengan sampah.

Pengalaman-pengalaman buruk, seperti penghinaan, perlakukan buruk, cemoohan, ketersinggungan, kegagalan, dan lainnya; adalah ''sampah'' yang berpotensi mengotori pikiran. Semakin sering kita menyimpan memori buruk di otak, semakin negatif sikap dan perilaku kita.

Karena itu, satu syarat agar hidup kita bahagia adalah membersihkan kepala dari ''sampah-sampah'' busuk. Bagaimana caranya? Pertama, selalu berusaha mengingat kebaikan orang dan melupakan keburukannya. Saat orang lain menyakiti kita, carilah seribu satu alasan agar kita tidak benci. Ingatlah selalu kebaikannya. Jangan sampai kita mengabaikan seribu kebaikan orang, hanya karena satu keburukan yang boleh jadi tidak sengaja ia lakukan.

Kedua, segera lupakan semua perlakuan buruk orang lain. Ibaratnya, kalau tinta mengotori muka, maka tindakan yang bijak adalah segera membersihkannya, bukan membiarkannya, atau menunjukkannya pada yang lain. Demikian pula saat orang berlaku buruk pada kita, menghina misalnya, alangkah bijak bila kita segera menghapusnya, bukan memendamnya, membesar-besarkannya, atau menunjukkannya pada banyak orang.

Ketiga, mohonlah kepada Allah SWT agar diberi hati yang lapang dan pikiran yang jernih. Ada doa dalam Alquran yang bisa kita panjatkan, ''Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku; dan mudahkanlah urusanku; dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku; agar mereka mengerti perkataanku.'' (QS Thaahaa [20]: 25-28). Wallahu a'lam bish-shawab.

(KH Abdullah Gymnastiar )

Review[TAUSIYAH] Sambut Ramadhan Bersihkan Hati Sep 19, '06 9:47 AM
for everyone
Category:Other
"Hentikan praktik menghina. Dalam menyambut bulan suci Ramadhan, bersihkan hati. Ibarat mengeluarkan air dalam teko yang keluar pasti air, begitu juga mengeluarkan comberan dari parit, yang keluar ialah comberan. Begitu juga orang yang menghina, sesungguhnya dia sedang menunjukkan isi hatinya sendiri. Ada rumus agar selamat dan sukses penuh dengan ibadah kepada "Allah SWT, yakni formula 5S ( Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun ).
Hormat menghormati sangat penting, dalam kehidupan sehari-hari. Terutama kepada orang yang paling dekat, seperti istri/suami, dan anak-anak. Bila perlu setiap pemerintah daerah mengusulkan membuat Perda Wajib Senyum. Jika 240 juta jiwa warga indonesia mengawali sesuatu dengan senyum, betapa indahnya hubungan antar manusia."

Tausiyah Aa' Gym Dalam rangka HUT Gema Nusa ( Gerakan Membangun Nurani Bangsa) ke 2 di Lapangan Pemprov. Sumsel pukul 14.00 wib. Tanggal 17 September 2006


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help